SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

•f1008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Makalah :Teknologi komunikasi dan Informasi Dalam Pendidikan

Pengasuh :

1.Prof.Dr.Yusufhadi Miarso,Msc

2.Ir.Mohamad Adriyanto,MSM

SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

DI SUSUN OLEH :

1.ANTONI LAMINI

2.LANGGENG

3.LIS SUWARNI

4.SRI REJEKI D.A

5.SRI HANDAJANI

Program Pasca Sarjana Magister Pendidikan

Universitas Mulawarman Samarinda

Kelas Bontang Tahun 2008

BAB 1

PENDAHULUAN

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi dan teknologi komunikasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat pertukaran pikiran. Perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e- seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

EVOLUSI EKONOMI GLOBAL

  1. Ekonomi Agraris, sampai dua ratus tahun yang lalu ekonomi dunia bersifat agraris dimana salah satu ciri utamanya adalah tanah merupakan faktor produksi yang paling dominant.
  2. Ekonomi Industri , sesudah terjadi revolusi industri, dengan ditemukannya mesin uap, ekonomi global ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utamanya adalah modal sebagai faktor produksi yang paling penting.
  3. Ekonomi Informasi, saat ini, manusia cenderung menduduki tempat sentral dalam proses produksi, karena tahap ekonomi yang sedang kita masuki ini berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada informasi (information focused). Dalam hal ini telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke dalam Masyarakat atau Ekonomi Informasi. Masyarakat baru ini juga sering disebut sebagai masyarakat pasca industri. Apapun namanya, dalam era informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau “Global village”. Sehingga sering kita dengar istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead”, yang makin lama makin nyata kebenarannya.

Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya.

BAB 2

PERKEMBANGAN, IMPLIKASI, DAN PEMANFAATAN TI DAN TK DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA PERKEMBANGAN TI DAN TK DI INDONESIA

Teknologi Siaran Sejak PELITA I teknologi berupa siaran radio dan televisi telah diprogramkan. Memang sarana dan prasarana pada waktu itu belum ada atau belum memadai, namun dengan perkembangan teknologi siaran, seperti siaran langsung dari satelit dan pemancar ulang berdaya rendah, telah memungkinkan dicapainya seluruh pelosok tanah air. Teknologi ini terus berkembang sampai dengan PELITA berikutnya, yang kemudian berkembang dengan munculnya televisi swasta dan jaringan televisi siaran lokal.

Satelit Komunikasi Sejak tahun 1976, Indonesia telah memasuki era informasi modern dengan beroperasinya SKSD PALAPA I. Sistem satelit komunikasi ini merupakan kebutuhan yang unik bagi Indonesia, karena keadaan dan letak geografisnya. Dasar pertimbangan pengembangan sistem ini adalah untuk keperluan pendidikan, penerangan, hiburan, pemerintahan, bisnis, pertahanan keamanan, dan perindustrian. Komputer Perkembangan perangkat keras komputer berlangsung sangat pesat. Selain daya muatnya yang semakin besar, kecepatan operasinya juga semakin tinggi. Jika sepuluh tahun yang lalu microprocessor komputer mampu mengakses memori dengan kecepatan perjutaan detik, maka saat ini kecepatannya sudah dihitung dengan permiiliar (nano) detik. Komputer meja atau personal computer saat ini sudah tidak dipandang sebagai barang mewah lagi, melainkan sebagai suatu kebutuhan yang esensial untuk dapat mengikuti kemajuan. Boleh dikatakan tidak ada satu kantorpun yang tidak memiliki dan mengoperasikan komputer.

Teknologi Video (Perekam Video) Perkembangan dalam teknolofi video sejalan dengan perkembangan komunikasi dan komputer, meskipun orientasi utamanya adalah untuk keperluan hiburan. PERKEMBANGAN TI DAN TK MENURUT RAMALAN PARA AHLI Dari dulu sejak sebelum maraknya penggunaan TI dan TK dalam kehidupan dan dalam bidang pendidikan pada khususnya, para ahli telah mengungkapkan ramalannya tentang penggunaan TI dan TK ini. Berikut ini kita bahas beberapa ramalan para ahli tersebut. “Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka” (Mukhopadhyay M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “Pendidikan tanpa sekolah (Deschooling Socieiy),” yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan. Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan nantinya akan bersifat “Saat itu juga (Just on Time). Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner. Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan “Computer-based Multimedia Communication (CMC). Dari ramalan dan pandangan para cendikiawan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif

PERKEMBANGAN DAN IMPLIKASI TI DAN TI

DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Kecenderungan perkembangan dan implikasi dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah:

1. Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning).

2. Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan.

3. Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video.

DISTANCE LEARNING Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.

Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut:

1. Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya.

2. Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya.

3. Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya.

4. Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning

5. Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database.

6. Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web.

CONTOH LAIN PEMANFAATAN ATAS PERKEMBANGAN TI DAN TK UNTUK PENDIDIKAN DI INDONESIA

Perpustakaan elektronik (e-library) Revolusi teknologi informasi tidak hanya mengubah konsep pendidikan di kelas tetapi juga membuka dunia baru bagi perpustakaan. Perpustakaan yang biasanya merupakan arsip buku-buku dengan dibantu teknologi informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang pasif menjadi lebih agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Dengan banyaknya perpustakaan tersambung ke internet, sumber ilmu pengetahuan yang biasanya terbatas ada di perpustakaan menjadi tidak terbatas

Surat elektronik (e-mail) Dengan aplikasi e-mail, seorang guru, orang tua, pengelola, dan siswa dapat dengan mudah saling berhubungan. Pihak sekolah dapat membuat laporan perkembangan siswa dan prestasi belajar baik diminta orang tua atau pun tidak. Dalam kegiatan belajar diluar sekolah, siswa yang menghadapai kesulitam materi pelajaran dapat bertanya lewat e-mail kepada pihak sekolah atau guru bidang studi. Demikian pula untuk guru yang berhalangan hadir dapat memberikan tugas via e-mail kepada siswa.

Ensiklopedia Sebagian perusahaan yang menjalankan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen menggunakan CD-ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga duharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tetapi juga video dan audio.

Jurnal atau majalah ilmiah Salah satu argumentasi umumnya di dunia pendidikan Indonesia adalah kurangny akses informasi ke jurnal atau majalah ilmiah yang berada di internet sehingga memudahkan bagi para siswa untuk mengakses informasi ilmiah terkahir yang ada di seluruh dunia.

Pengembangan homepage dan sistim distribusi bahan belajar secara elektronik (digital) Sistem pembelajaran melalui homepage dapat dikembangkan dalam bentuk sekolah maya (virtual school) sehingga semua kegiatan pembelajaran mulai dari akses bahan belajar, penilaian, dan kegiatan administrasi pendukung dapat secara online selama 24 jam. • Video teleconference Keberadaan teknologi informasi video teleconference memungkinkan bagi anak-anak di seluruh dunia untuk saling mengenal dan berhubungan satu dengan lainnya. Video teleconference di sekolah merupakan saranan untuk diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada kegiatan belajar mengajar yang bersifat social. Disamping itu dapat pula untuk pengamatan proses eksperimen dari seorang guru.

BAB 3

KESIMPULAN

Sejak tahun 1976, Indonesia telah memasuki era indormasi modern dengan beroperasinya SKSD PALAPA I. Di era informasi ini, TI dan TK memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). Perkembangan TI dan TK dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, termasuk dalam dunia pendidikan. Dengan perkembangan TI dan TK yang sangat pesat ini, mau tidak mau, siap ataupun tidak siap, akan semakin deras mengalirkan informasi dengan segala dampak positif dan negatifnya ke masyarakat Indonesia. Perkembangan TI dan TK memperlihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini, termasuk dalam dunia pendidikan. Seperti penggunaan e-learning, e-library, e-education, e-mail, e-laboratory, dan lainnya. Seperti ramalan dan pandangan para cendikiawan tentang pendidikan di masa depan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif. Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya.

REFERENSI

1. Miarso, Yusufhadi, 2005, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Kencana, Jakarta

2. Moerwanto, F.B, 2002, Mengenali Arti dan Manfaat Telematika, Jakarta

3. http://www.informatika.lipi.go.id/

4. http://binusmaya.binus.ac.id/

5. http://library.binus.ac.id/

6. http://www.oke.or.id/

TBC PENYAKIT YANG DAPAT DISEMBUHKAN DAN BUKAN PENYAKIT KETURUNAN

•f1008 • Tinggalkan sebuah Komentar

TBC PENYAKIT YANG DAPAT DISEMBUHKAN

DAN BUKAN PENYAKIT KETURUNAN

*ANTONI LAMINI

(MAHASISWA S2 KEPENDIDIKAN UNMUL SAMARINDA, kelas Bontang)

Penulisan artikel ini diawali oleh keinginan saya untuk berbagi informasi tentang penyakit TBC dan pengalaman saya sebagai Pengawas Minum Obat bagi penderita penyakit TBC ( kasus pada kakak ipar ).

Penykit TBC hampir saja menyebabkan keponakan saya menjadi anak yatim jika kakak ipar saya terlambat untuk mendapat pertolongan dokter puskemas Kelurahan Loktuan,Bontang Utara,Kalimantan Timur.Awalnya kami kira kalau kakak ipar saya hanya menderita penyakit batuk biasa,karena memang sering batu-batuk jika malam hari selama satu bulan .Tapi kejadiaannya sangat tidak dapat kami percaya pada saat kami sedang bekerja tiba-tiba saja kakak ipar saya mengeluh dadanya sakit dan rasanya ingin muntah,namum saat muntah yang keluar adalah darah segar yang tidak mau berhenti dibarengi dengan batuk yang tidak ada hentinya selama kurang lebih tiga puluh menit.Saya bergegas untuk memberikan pertolongan dan tanpa pikir panjang saya bawah kakak ipar saya untuk mendapatkan pertolongan secepatnya dan pertolongan medis yang paling dekat adalah puskesmas.Dan saya sangat kaget ketika dokter menyatakan bahwa kakak terkena penyakit TBC yang waktu itu menurut saya TBC adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan merupakan penyakit keturunan dan pikiran saya menjadi tidak karuan.Untungnya dokter mengatakan bahwa penyakit TBC dapat disembuhkan asalkan rajin berobat dan minum obat secara teratur sesuai dengan resep.(kejadian sebenarnya : di Bontang tahun 2002 )

Apakah itu Tuberkulosis?

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang dapat diobati, yang disebabkan oleh bakteri (kuman) Mycobacterium tuberculosis. TBC boleh merusakkan paru-paru atau bagian tubuh lain danmengakibatkan penyakit parah.

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

Bagaimanakah TBC menular?

Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

TBC menular melalui udara apabila orang yang membawa TBC dalam paru-paru atau tenggorokan batuk, bersin atau berbicara, lalu kuman dilepaskan ke udara. Apabila orang lain menghirup kuman ini mereka mungkin terinfeksi. Kebanyakan orang mendapat kuman TBC dari orang yang sering berada dekat dengan mereka, seperti anggota keluarga, teman atau rekan sekerja.TBC tidak menular melalui barang dan peralatan rumah, misalnya sendok garpu, periuk, gelas, seprai,pakaian atau telepon, jadi barang dan peralatan baru untuk kegunaan sendiri tidak diperlukan.

Apakah “infeksi TBC”?

Infeksi TBC berarti bahwa kuman TBC berada dalam tubuh meskipun tidak aktif. Seringkali, setelah kuman TBC memasuki badan, kekebalan tubuh mengontrol kuman tersebut. Namun, kuman ini masih hidup dalam tubuh bertahun-tahun lamanya dalam bentuk tidak aktif. Sewaktu kuman TBC tidak aktif, kerusakan tidak bisa timbul, dan penyakit tidak dapat ditularkan kepada orang lain. Orang sedemikian “terinfeksi“, meskipun tidak sakit. Bagi kebanyakan orang (90%) kuman ini akan tetap tidak aktif. Satu-satu caranya seseorang dapat mengetahui apakah telah terinfeksi adalah jika ada hasil positif untuk tes kulit khusus.

Bakteri Mikobakterium tuberkulosa

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Kapan “infeksi” menjadi “penyakit”?

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

Mungkin juga, kuman TBC tidak aktif berubah menjadi aktif kendati setelah bertahun-tahun. Hal ini sering terjadi apabila kekebalan tubuh dilemahkan, akibat usia lanjut, penyakit parah, peristiwa yang menimbulkan stres, penyalahgunaan narkotik atau alkohol, infeksi HIV (virus yang menyebabkan penyakit AIDS) atau penyakit-penyakit lain. Apabila kuman TBC yang tidak aktif berubah menjadi aktif, kuman tersebut berkembang biak dan mungkin merusakkan paru-paru atau bagian tubuh yang lain. Jika kuman TBC menjadi aktif, penyakit TBC bisa timbul. Hanya sekitar 10% orang yang terinfeksi dengan kuman TBC akan mendapat penyakit TBC.

Apakah gejala-gejala TBC?

Gejala Umum :

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.TBC dapat menyerang bagian tubuh manapun, tetapi yang paling sering adalah paru paru. Orang yang mempunyai TBC mungkin mengalami beberapa atau semua gejala berikut:

1) Batuk selama lebih dari 3 minggu

2) Demam

3) Berat badan menurun tanpa sebab

4) Berkeringat pada waktu malam

5) Capai selalu

6) Hilang nafsu makan

Kadang-kadang, orang yang mempunyai TBC membatukkan dahak berdarah. Sebagian orang dengan penyakit TBC aktif hanya mengalami gejala yang sederhana.( Tuberculosis Information – Indonesian 2001 [DOH-6140]

Gejala khusus :

1) Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.

2) Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.

3) Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.

4) Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Apakah tes-tes biasa untuk TBC?

1. Tes Kulit Tuberkulin (Tes Mantoux) menunjukkan apakah seseorang mungkin terinfeksi.

2. Sinar X dada dapat menunjukkan apakah ada kesan-kesan TBC pada paru-paru.

3. Tes dahak menunjukkan apakah ada kuman TBC dalam dahak yang dibatukkan.

Penegakan Diagnosis

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

  • Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  • Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  • Rontgen dada (thorax photo).
  • Uji tuberkulin.

Uji Tuberkulin dan Klasifikasi TBC

Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam “Screening TBC”. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik. Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi.

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

1.

Pembengkakan (Indurasi)

:

0–4mm,uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa.

2.

Pembengkakan (Indurasi)

:

3–9mm,uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mikobakterium atipik atau setelah vaksinasi BCG.

3.

Pembengkakan (Indurasi)

:

≥ 10mm,uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.

Pemeriksaan radiologis dapat memperkuat diagnosis, karena lebih 95% infeksi primer terjadi di paru-paru maka secara rutin foto thorax harus dilakukan. Ditemukannya kuman Mikobakterium tuberkulosa dari kultur merupakan diagnostik TBC yang positif, namun tidak mudah untuk menemukannya.

Klasifikasi TBC (menurut The American Thoracic Society, 1981)

Klasifikasi 0

Tidak pernah terinfeksi, tidak ada kontak, tidak menderita TBC

Klasifikasi I

Tidak pernah terinfeksi,ada riwayat kontak,tidak menderita TBC

Klasifikasi II

Terinfeksi TBC / test tuberkulin ( + ), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif).

Klasifikasi III

Sedang menderita TBC

Klasifikasi IV

Pernah TBC, tapi saat ini tidak ada penyakit aktif

Klasifikasi V

Dicurigai TBC

Apa yang harus dilakukan jika Anda merasa bahwa Anda mungkin

mempunyai TBC?

Hubungilah Puskesmas dan rumah sakit terdekat setempat, atau ke dokter keluarga.

Bagaimakah TBC dirawat?

  1. Infeksi TBC: dokter akan menulis resep untuk perawatan dengan tablet (perawatan pencegahan) atau pemeriksaan ulang dengan sinar X secara tetap.
  2. Penyakit TBC: kombinasi antibiotik yang digunakan selama sekurang-kurangnya 6 bulan.Perawat akan memperhatikan apabila Anda menerima perawatan antibiotik TBC, untuk menentukan apakah ada efek sampingan dan untuk memastikan perawatan dijalani sampai selesai.Orang yang mempunyai TBC dapat disembuhkan jika perawatan dijalani sampai selesai.

PENGOBATAN TBC

Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10 mg/kgbb/hari.

  1. Pencegahan (profilaksis) primer
    Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).
    INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).
    Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.
  2. Pencegahan (profilaksis) sekunder
    Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC.
    Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.

Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :

  • Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
    Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
  • Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin.

Dosis obat antituberkulosis (OAT)

Obat

Dosis harian
(mg/kgbb/hari)

Dosis 2x/minggu
(mg/kgbb/hari)

Dosis 3x/minggu
(mg/kgbb/hari)

INH

5-15 (maks 300 mg)

15-40 (maks. 900 mg)

15-40 (maks. 900 mg)

Rifampisin

10-20 (maks. 600 mg)

10-20 (maks. 600 mg)

15-20 (maks. 600 mg)

Pirazinamid

15-40 (maks. 2 g)

50-70 (maks. 4 g)

15-30 (maks. 3 g)

Etambutol

15-25 (maks. 2,5 g)

50 (maks. 2,5 g)

15-25 (maks. 2,5 g)

Streptomisin

15-40 (maks. 1 g)

25-40 (maks. 1,5 g)

25-40 (maks. 1,5 g)

Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia – WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan.

Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai “pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan” setiap hari.

Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan mungkin menimbulkan kekebalan obat.

Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan).

Pengobatan TBC pada orang dewasa
  • Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
    Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).
    Diberikan kepada:

    • Penderita baru TBC paru BTA positif.
    • Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.
  • Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
    Diberikan kepada:

    • Penderita kambuh.
    • Penderita gagal terapi.
    • Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.
  • Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
    Diberikan kepada:

    • Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.

Pengobatan TBC pada anak

Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu:

  1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
  2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).

Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.

Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:

TB tidak berat

INH

: 5 mg/kgbb/hari

Rifampisin

: 10 mg/kgbb/hari

TB berat (milier dan meningitis TBC)

INH

: 10 mg/kgbb/hari

Rifampisin

: 15 mg/kgbb/hari

Dosis prednison

: 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)

Apakah pasien TBC selalu dapat menularkan penyakit?

Orang yang mempunyai TBC paru-paru atau tenggorokan dapat menularkan penyakit kepada orang lain. Orang yang mempunyai TBC di bagian tubuh lain tidak dapat menularkan penyakit. Biasanya, setelah 2 minggu menerima perawatan obat, pasien yang mempunyai TBC tidak lagi menularkan kuman

Daftar Pustaka / Sumber Riset On Line

  1. PT. MEPROFARM Pharmaceutical Industries
    Jl. Soekarno-Hatta 789, Bandung 40294
    Tel : (022) 7805588
    Fax : (022) 7805577
    E-mail: mpf@bdg.centrin.net.id
    http: //www.meprofarm.com
  2. Tuberculosis Information (Indonesian )

File Format: PDF/Adobe Acrobat – View as HTML
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang dapat diobati, yang disebabkan oleh bakteri dengan penyakit TBC aktif hanya mengalami gejala yang sederhana.
www.health.nsw.gov.au/mhcs/publication_pdfs/6140/DOH-6140-IND

3. Republika : Infeksi HIV,Hepatitis C dan TBC Sekaligus

File Format: PDF/Adobe Acrobat – View as HTML
TBC, sehingga  penyebaran penyakit TBC menjadi lebih mudah. Pengguna narkotika biasanya  juga perokok berat,. sehingga lebih memudahkan lagi tertular
http://www.aidsindonesia.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1715 Similar pages

Peningkatan Interaksi Pembelajaran Siswa Dalam Pembelajaran Ekonomi di kelas XII IPS SMA YKP Monamas Bontang

•f1808 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lampiran :

Tugas 2 :

Penerapan Prinsip Ontologi,Epistemologi dan Aksiologi pada kerangka berfikir tesis yang direncanakan

Judul Tesis : Analisa Peningkatan Interaksi Pembelajaran Siswa Dalam Pembelajaran Ekonomi di Kelas XII IPS SMA YKP MONAMAS Kota Bontang,Dengan Tehnik Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here

PENINGKATAN INTERAKSI PEMBELAJARAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI DI KELAS XII IPS

SMA YKP MONAMAS KOTA BONTANG,

DENGAN TEHNIK PEMBELAJARAN EVERYONE IS A TEACHER HERE

ABSTRAK

Rendahnya percaya diri siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan berdampak pada kemampuan siswa berinteraksi dalam proses pembelajaran.Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan Interaksi pembelajaran siswa dalam proses pembelajaran materi Ekonomi di kelas XII IPS SMA YKP MONAMAS KOTA BONTANG. Penelitian Tindakan Kelas dipilih dalam rangka memperbaiki, meningkatkan kualitas/mutu interaksi pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas dengan fokus tehnik pembelajaran everyone is a teacher here.

Sebagai indikator peningkatan Interaksi pembelajaran siswa dalam pembelajaran materi ekonomi adalah siswa aktif saling berkomunikasi antar siswa dan guru, baik secara lisan maupun tertulis, dengan cara mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dan memberikan gagasan, siswa dapat berinteraksi/memanfaatkan sumber belajar secara maksimal dalam proses pembelajaran.

Sumber data dikumpulkan dari siswa, guru dan dokumen yang terlibat dalam penelitian. Jenis data yang didapatkan adalah data kualitatif dan kuantitatif yang terdiri dari:, hasil observasi terhadap pelaksana proses pembelajaran, hasil wawancara dan hasil belajar. pada pra penelitian, siklus pertama, siklus kedua, dan siklus ketiga Analisis data dilakukan melalui teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa tehnik pembelajaran everyone is a teacher here dapat meningkatkan Interaksi pembelajaran siswa dalam pembelajaran materai Ekonomi dan memperkecil tingkat kesulitan siswa untuk bertanya, menjawab pertanyaan dan mengemukakan gagasan dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas/mutu interaksi pembelajaran dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Kata kunci : Interaksi pembelajaran, tehnik pembelajaran everyone is a teacher here

BAB I

PENDAHULUAN.


Proses Pembelajaran adalah kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif tersebut mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.Harapan yang ada pada setiap guru adalah bagaimana materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami secara tuntas. Untuk memenuhi harapan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, karena kita sadar bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda baik dari segi minat, potensi, kecerdasan dan usaha siswa itu sendiri.Dari keberagaman pribadi yang dimiliki oleh siswa tersebut, kita sebagai guru hendaknya mampu memberikan pelayanan yang sama sehingga siswa yang menjadi tanggung jawab kita di kelas itu merasa mendapatkan perhatian yang sama. Untuk memberikan pelayanan yang sama tentunya kita perlu mencari solusi dan strategi yang tepat, sehingga harapan yang sudah dirumuskan dalam setiap Rencana Pembelajaran dapat tercapai.Dari hasil penelitian dan pengalaman mengajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi di SMA YKP MONAMAS KOTA BONTANG, dimana penulis telah menggunakan Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) dengan mempergunakan lembar tugas siswa kreatif, disini terlihat keaktifan siswa tapi belum semua siswa berani mengemukakan pendapat atau bertanya, dari hasil pengamatan kami dalam proses pembelajaran ini disebabkan karena tingkat berpikir siswa yang berbeda-beda, ada yang lambat dan ada yang cepat, sehingga dalam proses pembelajaran masih didominan oleh siswa yang pintar. Untuk mencapai harapan dan memecahkan persoalan ini kami akan mengembangkan tehnik pembelajaran everyone is a teacher here ( semua orang adalah guru), sehingga jalannya pembelajaran dapat membuat siswa aktif bukan saja aktif secara fisik tetapi juga phisikisnya dan saling berinteraksi antar siswa, siswa dan guru, serta siswa dan sumber belajar.Tehnik pembelajaran ini penulis rancang dengan memberikan kartu index pada siswa untuk membuat pertanyaan sambil berdiskusi, mencari, menemukan dan memutuskan jawabannya secara individual dan didiskusikan dalam kelompoknya sendiri. Guru disini berfungsi sebagai fasilitator yang bertugas membimbing dan mengarahkan siswa di dalam kelompok belajarnya.Selain tersebut di atas, tehnik pembelajaran ini juga memberikan kebebasan pada siswa untuk melatih keberanian dalam mengungkapkan gagasan, pendapat, yang dapat berfungsi mengubah pola pembelajaran konvensional yang seluruh rangkaian belajar mengajar berpusat pada guru tanpa sedikitpun memberikan kesempatan pada siswa, sehingga kadang-kadang siswa terbelenggu oleh aturan dan penggunaan strategi yang monoton dan membosankan, yang akhirnya anak didik kita menjadi anak-anak yang penakut.Belajar dengan diskusi kelompok memudahkan bagi guru untuk memberikan bimbingan baik klasikal maupun individual, karena posisi duduk siswa sudah diatur dengan model kelompok.Didasari asumsi bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bisa memberi rasa senang kepada siswa sehingga membuat mereka asyik bernalar. Sebagaimana dikemukakan oleh William Anyers, ahli pendidikan dari Amerika; (dalam M. Sobry Sutikno, 2005) guru yang paling baik dari sepuluh mitos guru yang baik adalah guru yang mampu menciptakan keasyikan siswa dalam belajar.Penjabaran dari ide tersebut secara teknis dilakukan dengan tehnik pembelajaran everyone is a teacher here ( semua orang adalah guru), karena pembelajran everyone is a teacher here ( semua orang adalah guru) adalah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi, untuk mengembangkan Interaksi pembelajaran siswa dilakukan dengan siswa menulis pertanyaan dikartu index dan mempersiapkan jawabannya, dan berkomunikasi karena dengan berkomunikasi pembelajaran dititik beratkan pada hubungan antar individu dan sumber belajar yang lain dan berorientasi pada kemampuan individu untuk berhubungan dengan sumber belajar tersebut. Tehnik pembelajaran ini memotivasi semua siswa untuk aktif dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengajar temannya dan mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, serta dapat membuat pertanyaan dan mengemukakan pendapat.

BAB II

KERANGKA BERPIKIR.

KONDISI AWAL

PERLAKUAN/ TINDAKAN

KONDISI AKHIR

KONDISI AWAL

  1. Dalam proses pembelajaran sudah melaksanakan PAKEM.
  2. Belum semua siswa berani bertanya dan mengemukakan pendapat dalam proses pembelajaran
  3. Keaktifan siswa masih di dominan oleh siswa yang pintar
  4. Masih ada siswa yang malu mengakui bahwa mereka tidak tahu, sehingga ragu mengajukan pertanyaan dan takut ditertawakan.

PERLAKUAN/ TINDAKAN

  1. Setiap siswa menulis pertanyaan pada kartu indek dan jawabannya pada kartu index yang lain.
  2. Kartu indek ditukarkan ke siswa yang lain.
  3. Siswa yang mendapat kartu indek , membacakan soal, sambil menyiapkan jawabannya.
  4. Siswa yang soalnya dibacakan menjawab pertanyaan tersebut dan dipertegas oleh siswa yang membaca soal.

KONDISI AKHIR

  1. Terdapat rasa percaya diri siswa dalam menjawab pertanyaan.
  2. Siswa berani berkomunikasi secara lisan maupun tertulis.
  3. Meningkatnya interaksi belajar antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan sumber belajar.
  4. Terdapat kenaikan hasil belajar walaupun tidak significant.

Diskusi pemecahan masalah

Penerapan tehnik pembelajaran everyone is a teacher here.(3 siklus).

Evaluasi awal

Evaluasi efek

Evaluasi akhir

Hipotesis

Untuk menguji hypotesa dilakukan dengan metode “Analisa Peningkatan Interaksi Pembelajaran Siswa Dalam Pembelajaran ,Dengan Tehnik Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here yaitu sebagai alat pengukur untuk menilai dan menganalisa hasil /prestasi belajar siswa.

Sedangkan objek yang akan diteliti adalah dokumen lembar kerja siswa, Interaksi Pembelajaran Siswa Dalam Pembelajaran dan Tehnik Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here. Bertitik tolak dari asumsi penelitian tersebut, maka sebagai anggapan sementara terhadap permasalahan yang diteliti dihypotesakan sebagai berikut : Analisa Peningkatan Interaksi Pembelajaran Siswa Dalam Pembelajaran Ekonomi di Kelas XII IPS SMA YKP MONAMAS Kota Bontang,Dengan Tehnik Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here”.

BAB III
METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMA YKP MONAMAS KOTA BONTANG, sekolah ini dipilih karena sebagai bahan masukkan/evaluasi penulis sebagai guru pengampuh mata pelajaran Ekonomi dan sekaligus guru BP/BK , guna untuk menindak lanjuti penelitian tindakan kelas yang sebelumnya pada tahun 2007, dimana waktu itu, untuk mengaktifkan siswa, peneliti menggunakan pendekatan PAKEM, tapi belum semua siswa berani berkomunikasi. Untuk ini maka peneliti ingin melaksanakan tehnik pembelajaran everyone is a teacher here, untuk memotivasi siswa berani berinteraksi dengan cara berkomunikasi dengan sesama siswa, guru dan sumber belajar, penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan semester Genap bulan Januari dan Februari tahun 2008, dengan alasan bahwa bulan tersebut sangat baik untuk digunakan sebagai penelitian karena siswa kelas XII akan menghadapi ujian akhir nasional ( UAN ), dimana hasil penelitian ini nanti dapat memotivasi siswa banyak bertanya terhadap materi pelajaran, yang belum mereka kuasai sehingga diwaktu menempuh ujian nasional diharapkan mereka sudah mampu menjawab terhadap materi yang belum dikuasainya Subyek penelitian dipilih siswa Kelas XII , dengan jumlah murid satu kelas 49 siswa. Mata pelajaran Ekonomi/Akuntansi dengan Standar kompetensi : Kemampuan memahami Permintaan,Penawaran dan Ekuilibrium serta Laporan Keuangan.Sumber data yang digunakan dalam PTK yaitu data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah siswa dan guru. Sumber data sekunder adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan tata usaha sekolah.

Data Primer yang dihasilkan dalam PTK antara lain:

1) data hasil wawancara dengan guru dan siswa,

2) data nilai prestasi belajar siswa sesudah pelaksanaan PTK, dan

3) data catatan observasi tindakan (proses pembelajaran), baik observasi untuk siswa maupun guru.

Data Sekunder dalam PTK yaitu :

1) nilai siswa sebelum PTK dilaksanakan yang diambil dari nilai hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian hingga beberapa kali pembelajaran dengan kompetensi yang sama..

2) dan laporan pengamatan hasil wawancara dengan siswa yang tidak secara langsung dalam proses pembelajaran.

Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam PTK. Proses ini merupakan penentu baik tidaknya proses PTK. Apabila proses tidak baik, maka simpulan PTK yang dihasilkan akan bias. Akibatnya hasil kesimpulan PTK tidak bisa dipakai sebagai acuan dan pedoman dalam pengembangan tindakan kelas.

Untuk mengumpulkan data-data tersebut digunakan beberapa teknik yaitu:

Ø Teknik wawancara dan pengisian angket untuk menggali informasi mengenai suasana pembelajaran dan tehnik pembelajaran yang diciptakan untuk meningkatkan interaksi dan komunikasi siswa serta kesulitan-kesulitan dalam membuat pertanyaan dalam pembelajaran.

Ø Teknik observasi digunakan untuk mengetahui peningkatan interaksi siswa dan pemunculan ketrampilan kerjasama siswa dalam berdiskusi, membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa.

Ø Teknik dokumentasi bermanfaat dalam mengumpulkan nilai-nilai siswa, sebagai data sekunder untuk melihat kemajuan hasil belajar.

Ø Tes dilakukan untuk mengukur peningkatan prestasi hasil belajar siswa, yang diberikan sebelum penelitian dan setelah siswa mendapatkan tindakan dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan.Alat yang digunakan untuk mengumpul data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : butir soal tes. Lembar observasi dan pedoman wawancara.

Analisa data merupakan jiwa dari Penelitian Tindakan Kelas, langkah yang ditempuh setelah pengumpulan data adalah menganalisis data. Analisis data pada penelitian ini tidak menggunakan uji data secara statistik, tetapi menggunakan analisis diskriptif. Data yang dianalisis adalah data kualitatif dan kwantitatif, data kuantitatif dari angket dan tes hasil belajar, dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes antas siklus maupun dengan indikator kinerja. dan data kualitatif dari hasil wawancara, pengamatan (observasi) proses pembelajaran, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dianalisis dengan analisis diskriptif berdasarkan hasil observasi dan refleksi.

BAB IV

PEMBAHASAN

Belajar merupakan keharusan bagi siapapun, selama manusia itu masih hidup pasti membutuhkan belajar, karena belajar orang tidak tahu berubah menjadi tahu, orang yang tidak mengerti menjadi mengerti. Pendapat C.Asri Budiningsih, pengertian belajar adalah membangun makna, pengertian, pemahaman terhadap pengalaman, informasi oleh si pembelajar yang disaring melalui persepsi, pikiran dan perasaan, serta diberi kesempatan untuk didorong mengeluarkan ungkap pikiran , ungkap pendapat. Jadi belajar adalah memproduksi gagasan bukan mengkonsumsi gagasan.

Pembaharuan dalam bidang pendidikan harus dimulai dari ‘Bagaimana anak belajar’ dan ‘ Bagaimana cara guru mengajar’ bukan dari ketentuan-ketentuan hasil (Abdul Majid, 2005).“Di Indonesia, kemampuan cara mengajar di depan kelas masih kurang dimiliki guru-guru, padahal materi pelajaran dalam kurikulum yang dipelajari itu dimana-mana sama” (Syaiful Bahri Djamarah,2002). Oleh karena itu ciptakan suasana yang menyenangkan

1. Tidak kikir untuk memuji

2. Tidak mempermalukan siswa

3. Tanamkan rasa “Tidak takut salah”

4. Tanamkan keyakinan “Saya bisa” atau “Percaya diri”

5. Tidak menjawab langsung pertanyaan siswa lemparkan pertanyaan tersebut pada siswa lain

Bagaimana seorang guru dapat menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar ke arah belajar seumur hidup dengan melalui komponen Belajar Aktif.

Pembelajaran di dalam kelas, khususnya tidak akan terjadi dengan baik jika salah satu dari 3 hal tidak ada yaitu : pendidik (pemberi pesan), pesan atau informasi dan peserta didik (penerima pesan). Winarno Surahmad (1994) dalam buku M. Sobry Sutikno,2005: menjelaskan bahwa di dalam proses pembelajaran selalu ditekankan pengertian interaksi yaitu hubungan aktif multi arah antara pendidik dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik yang lainnya, pendidik dan peserta didik dengan sumber belajar.. Tehnik pembelajaran interaksi merupakan kelompok tehnik pembelajaran yang menitik beratkan pada hubungan antar individu dengan individu lainnya.tekannannya pada proses realita atau sesungguhnya dan berorientasi pada prioritas terhadap kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain. Suasana kelas terasa hidup dan antara siswa dapat saling bertukar pikiran maupun pengalaman

Dari pengalaman pada siklus I dan siklus II, tergambar bahwa Lembar tugas siswa mempunyai tingkat keterandalan yang tinggi sehingga apabila proses pembelajaran dikelola lebih baik dan lebih efektif dapat meningkatkan proses pembelajaran siswa. Oleh karena itu diharapkan dapat mengurangi kesulitan-kesulitan pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran sebagaimana berlangsung dalam kelas, komponen proses pembelajaran adalah komponen sentral. Proses pembelajaran dapat diartikan secara luas dan secara sempit. Dalam arti luas, proses pembelajaran adalah aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan serta nilai sikap. Sedangkan dalam arti sempit proses pembelajaran menunjuk pada bentuk atau jenis pembelajaran tertentu (Sagala, Syaiful 2003). Setiap bentuk atau jenis pembelajaran memiliki ciri-ciri sendiri, yang membedakan dari bentuk atau jenis pembelajaran yang lain.

Setiap jenis pembelajaran merupakan proses pembelajaran tersendiri yang memiliki kekhususan. Namum semua jenis pembelajaran merupakan suatu proses yang menunjukan gejala-gejala yang terdapat pada semua proses pembelajaran. Gejala tingkat kesulitan pembelajaran dengan lembar tugas siswa terindikasi melalui strukturnya. bahasa yang digunakan dan alokasi waktu yang disediakan pada setiap kegiatan. Struktur lembar tugas siswa akan memudahkan penentuan langkah-langkah kegiatan, bahasa yang digunakan membantu pemahaman materi, alokasi waktu memberikan kelonggaran dalam penguasaan meteri yang dipelajari sehingga lembar tugas siswa dapat mengurangi tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran siswa.Lembar tugas siswa ternyata dapat mengurangi kesulitan belajar. Hal ini dapat dijelaskan dari peningkatan jumlah siswa yang menyatakan tidak sulit belajar dengan lembar tugas siswa. Kecenderungan yang terjadi pada siklus I dan siklus II memberikan gambaran bahwa pembelajaran dengan Lembar tugas siswa mengurangi Dari pengalaman pada siklus I dan siklus II, tergambar bahwa Lembar tugas siswa mempunyai tingkat keterandalan yang tinggi sehingga apabila proses pembelajaran dikelola lebih baik dan lebih efektif dapat meningkatkan proses pembelajaran siswa.

Oleh karena itu diharapkan dapat mengurangi kesulitan-kesulitan pembelajaran.Dalam proses pembelajaran sebagaimana berlangsung dalam kelas, komponen proses pembelajaran adalah komponen sentral. Proses pembelajaran dapat diartikan secara luas dan secara sempit. Dalam arti luas, proses pembelajaran adalah aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan serta nilai sikap. Sedangkan dalam arti sempit proses pembelajaran menunjuk pada bentuk atau jenis pembelajaran tertentu (Sagala, Syaiful 2003). Setiap bentuk atau jenis pembelajaran memiliki ciri-ciri sendiri, yang membedakan dari bentuk atau jenis pembelajaran yang lain.

Setiap jenis pembelajaran merupakan proses pembelajaran tersendiri yang memiliki kekhususan. Namum semua jenis pembelajaran merupakan suatu proses yang menunjukan gejala-gejala yang terdapat pada semua proses pembelajaran. Gejala tingkat kesulitan pembelajaran dengan lembar tugas siswa terindikasi melalui strukturnya. bahasa yang digunakan dan alokasi waktu yang disediakan pada setiap kegiatan. Struktur lembar tugas siswa akan memudahkan penentuan langkah-langkah kegiatan, bahasa yang digunakan membantu pemahaman materi, alokasi waktu memberikan kelonggaran dalam penguasaan meteri yang dipelajari sehingga lembar tugas siswa dapat mengurangi tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran siswa.Lembar tugas siswa ternyata dapat mengurangi kesulitan belajar. Hal ini dapat dijelaskan dari peningkatan jumlah siswa yang menyatakan tidak sulit belajar dengan lembar tugas siswa. Kecenderungan yang terjadi pada siklus I dan siklus II memberikan gambaran bahwa pembelajaran dengan Lembar tugas siswa mengurangi tingkat kesulitan yang terjadi atau mempermudah proses pembelajaran, hal ini tentunya disebabkan oleh fungsi lembar tugas siswa yang dapat sebagai media dan juga sebagai sumber belajar bagi siswa.Dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (Pakem) menggunakan lembar tugas siswa juga meningkatkan minat dan menambah keaktifan siswa dalam pembelajaran ekonomi, ini terlihat dari hasil analisis observasi pada siklus 1, 2 dan 3 bahwa siswa, tekun/antusias selama proses pembelajaran, aktif selama proses pembelajaran, dan aktif dalam mengerjakan tugas, serta disiplin dalam proses pembelajaran Proses pembelajaran yang lebih mudah dalam pemahaman materi ajar akan berdampak pada hasil belajar siswa. Proses pembelajaran yang menghasilkan perubahan-perubahan di pihak siswa dalam bentuk kemampuan di berbagai bidang yang sebelumnya tidak dimiliki. Kemampuan-kemampuan itu dihasilkan karena usaha pembelajaran namun merupakan kemampuan internal yang harus dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. (Cornegie, 1986).Hasil belajar siswa sebagai akibat dari penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) dengan lembar tugas siswa dapat dipakai acuan bahwa apabila proses pembelajaran dikelola dengan baik akan berdampak terhadap hasil belajar. Hasil belajar yang diperoleh siswa dari penerapan model pembelajaran PAKEM dengan lembar tugas siswa kreatif ternyata cukup prospektif. Hal ini dibuktikan adanya kecenderungan perubahan hasil belajar secara kuantitatif pada setiap siklus yang dilalui. Siklus I sebesar 72,53, sedang pada siklus II rata-rata nilai yang diperoleh 72,69. jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas rata-rata pada siklus I mencapai 65,63%, sedang pada siklus II mencapai 68,75%. Berdasarkan capaian nilai rata-rata pada setiap siklus telah menggambarkan bahwa hasil yang diperoleh dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) dengan lembar tugas siswa kreatif telah mencapai kualifikasi baik.

Dengan demikian sebagian permasalahan pembelajaran terutama dalam peningkatan efektifitas belajar dan hasil belajar dapat diatasi melalui penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) dengan lembar tugas siswa. Dengan kata lain bahwa untuk meningkatkan hasil belajar dapat dilakukan melalui PAKEM dengan menggunakan media Lembar tugas siswa Kreatif.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) pada dasarnya merupakan upaya peningkatan kualitas pendidikan khusus dalam proses pembelajaran. Jenis penelitian ini mampu menawarkan pendekatan dan prosedur baru yang lebih menjanjikan dampak langsung dalam bentuk perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran dikelas, dengan mengkaji berbagai indikator keberhasilan dan kesulitan dalam proses pembelajaran pada guru dan hasil belajar yang terjadi pada siswaBerdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dalam upaya Meningkatkan Interaksi Pembelajaran siswa dalam pembelajaran Ekonomi / Akuntansi di kelas XII SMA YKP MONAMAS Kota Bontang, dengan menggunakan tehnik pembelajaran everyone is a teacher here, dengan memvariasikan pengelolaan kelas, dari belajar berpasangan, menjadi belajar kelompok yang heterogen, dan menjadi kelompok homogen, dari interaksi hanya 2 arah antara guru dan siswa menjadi interaksi multi arah, siswa dan siswa, siswa dan guru serta guru dan siswa dengan sumber belajar..

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru memainkan peranannya sesuai fungsinya sebagai fasilitator, motivator, mediator, komunikator dan evaluator.. Dari perubahan proses pembelajaran ini dapat ditarik kesimpulan :

  1. Tehnik pembelajaran everyone is a teacher here dapat meningkatkan interaksi pembelajaran ini dilihat dari keberanian siswa bertanya, mempertahankan jawabannya dan berani berargumentasi/pendapat.
  2. Tehnik pembelajaran everyone is a teacher here dapat meningkatkan keberanian menjawab pertanyaan, dapat dilihat dari meningkatnya respon siswa untuk menjawab pertanyaan.
  3. Tehnik pembelajaran everyone is a teacher here dapat meningkatkan hasil proses pembelajaran dan hasil belajar siswa walupun tidak siqnifikan, namun perlu menjadi perhatian bahwa nilai hasil rata-rata akhir siklus adalah 80,4.
  4. Tehnik pembelajaran everyone is a teacher here meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan ini terlihat dari meningkatnya hasil proses pembelajaran maupun hasil belajar siswa.
  5. Ada peningkatan Interaksi pembelajaran siswa dalam pembelajaran materi ekonomi, dilihat dari siswa memanfaatkan sumber belajar dengan multi arah.
  6. Siswa yang kurang cerdas dapat membuat pertanyaan yang mengacu pada 4 elemen yaitu : 1). Pertanyaan dirumuskan dengan baik. 2). Pertanyaan ditulis secara logis, 3). Pertanyaan merupakan deskripsi dari buku. 4. Pertanyan penuh pemikiran dan relevan dengan bimbingan guru yang maksimal
  7. Siswa dapat menulis jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya sendiri maupun dari siswa lain, yang dikatagorikan dalam : 1) Jawaban yang tepat. 2) Jawaban yang kurang tepat. 3). Jawaban tidak tepat dengan diberi penguatan/penegasan dari guru.
  8. Jadi tehnik pembelajaran everyone is a teacher here dengan membuat kartu index pertanyaan dan jawaban dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran siswa dan meningkatkan interaksi pembelajaran ekonomi/akuntansi di kelas XII SMA YKP MONAMAS, Kota Bontang.

Agar proses pembelajaran ini dapat terus berlangsung dengan peningkatan interaksi pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa maka pihak sekolah dan guru perlu melakukan :

  1. Mengatur ruang kelas, dan denah tempat duduk siswa sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa
  2. Guru selalu mensuport/membantu dan memotivasi siswa untuk terbiasa membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan agar siswa mempunyai percaya diri dalam berinteraksi dengan sesama siswa.
  3. Para guru harus memiliki sikap keterbukaan, kesediaan menerima kritik dan saran terhadap kelemahan-kelemahan dalam proses pembelajaran.
  4. Mendukung guru-guru untuk mengembangkan macam-macam model pembelajaran dalam proses pembelajaran agar selalu ada peningkatan kualitas pembelajaran baik dari proses maupun hasil belajar siswa.
  5. Memotivasi guru untuk menulis karya ilmiah dengan salah satu cara melaksanakan penelitian tindakan kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, 2005, Perencanaan Pembelajaran.mengembangkan standar kompetensi guru, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Anita Lie, 2003, Cooperative Learning, Jakarta, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

C. Asri Budiningsih,DR, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta, Jakarta.

Hamidi.Dr.M.Si, 2004, Metode Penelitian Kualitatif, Malang,Universitas Muhammadiyah,Malang.

Melvin.L. Silberman, 2006, Active Learning 101 cara belajar siswa aktif, Bandung, Penerbit Nusamedia, Bandung.

M. Sobry Sutikno,2005. Pembelajaran Efektif apa dan bagaimana mengupayakannya, Mataram,NTP Pres, Mataram.

Sardiman. A.M, 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

S. Nasution.Prof. Dr. M.A, 2003, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara, Jakarta.

Suharsini Arikunto.Prof, SuharDjono. Prof, Supardi.Prof, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bumi Aksara, Jakarta.

Sukidin, Basrowi, Suranto, 2002, Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, PT Insan Cendekia, Bandung.

Sudikin, Basrowi, Suranto, 2002, Psychologi Belajar, Bandung, Insan Cendekia, Bandung.

Syaiful Bahri Djamarah. Drs, 2002, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta, Rineka Cipta, Jakarta.

Syaiful Sagala,H. DR. M.Pd, 2003, Konsep dan Makna Pembelajaran, Penerbit ALFABETA, Bandung.

Totok Djuroto.Drs.M.Si, Bambang Suprijadi.Drs. M.Si, 2003, Menulis Artikel dan Karya Ilmiah, Bandung, Remaja Resdokarya, Bandung.

Peranan Kepala Sekolah dan Kompetensi Guru

•f1808 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

KOMPETENSI GURU DAN PERAN KEPALA SEKOLAH

( REFLEKSI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL )

  1. Pendahuluan

Menurut Human Development Reports , HDR 2002 (Laporan Pembangunan Manusia 2002) yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan PBB ( United Nations Development Programme, UNDP) tentang Human Development Indicators 2002, Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti dengan Human Development Index (HDI) 0.684. Posisi Indonesia itu jauh di bawah negara anggota ASEAN, misalnya Singapura (25), Brunei Darussalam (32), Malaysia (59), Thailand (70), Vietnam (109).

Kemudian pada HDR 2003, indeks tersebut merosot menjadi 0,682. Penurunan indeks yang mencerminkan memburuknya kualitas manusia Indonesia ini juga terlihat dari menurunnya peringkat HDI, dari urutan 110 ke 112, sementara Malaysia naik ke peringkat 58 dan Vietnam masih di urutan ke 109. (Sumber Data dari Internet,Suara Pembaharuan)

Dua puluh tahun yang lalu, Malaysia masih belajar banyak dalam bidang pendidikan kepada Indonesia. Kini kualitas pendidikan negerinya Siti Nurhaliza itu jauh di atas mantan guru’-nya. Ketika negara tetangga giat menggenjot prestasi intelektual kaum terpelajarnya, negeri Jamrud Khatulistiwa ini malah disibukkan dengan audisi AFI, Indonesian Idol, API, atau KDI,Mama Mia,Dandut Dadakan,Idola Cilik,Raja-Ratu Anu.. dan seabrek lagi …………………..!

Dalam perspektif manajemen, agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru.

Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja, sebagai :
… sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Ini merupakan sebuah sistem. Artinya, ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan, kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi, manajer dan karyawan.

Dari ungkapan di atas, maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru, didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang :

1. Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru.Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.melakukan pekerjaan dengan baik”

2. Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan, memperbaiki, maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang.

3. Bagaimana prestasi kerja akan diukur.

4. Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya.


Selanjutnya, Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja, komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja.


Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang, menentukan bagaimana kinerja harus diukur, mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala, serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu.

Usaha meningkatkan mutu pendidikan nasional, pemerintah khususnya melalui Depdiknas terus menerus berupaya melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Michael G. Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…”. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru.

Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini agaknya masih beragam. Sudarwan Danim (2002) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.

Tulisan ini akan memaparkan tentang apa itu kompetensi guru dan bagaimana upaya-upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dilihat dari peran kepala sekolah. Dengan harapan kiranya tulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi bagi para guru maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan pendidikan.

B. Hakekat Kompetensi Guru

Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu ? Louise Moqvist (2003) mengemukakan bahwa “competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work. Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992) menyebutkan bahwa : ” A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.”

Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan.

Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..

Lebih jauh, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu :

  1. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
  2. Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.
  3. Kompetensi personal; yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani

Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :

  1. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

  1. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
  2. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
  3. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Sebagai pembanding, dari National Board for Profesional Teaching Skill (2002) telah merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do, didalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:

  1. Teachers are Committed to Students and Their Learning yang mencakup : (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar siswa, (c) perlakuan guru terhadap seluruh siswa secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir siswa.

  1. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students mencakup : (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).

  1. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan siswa, (c) menilai kemajuan siswa secara teratur, dan (d) kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.

  1. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience mencakup: (a) Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik, (b) guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran.

  1. Teachers are Members of Learning Communities mencakup : (a) guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan tua orang siswa, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.

Secara esensial, ketiga pendapat di atas tidak menunjukkan adanya perbedaan yang prinsipil. Letak perbedaannya hanya pada cara pengelompokkannya. Isi rincian kompetensi pedagodik yang disampaikan oleh Depdiknas, menurut Raka Joni sudah teramu dalam kompetensi profesional. Sementara dari NBPTS tidak mengenal adanya pengelompokan jenis kompetensi, tetapi langsung memaparkan tentang aspek-aspek kemampuan yang seyogyanya dikuasai guru.

Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.

Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pembelajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak pada praktek pembelajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para siswanya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pembelajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

C .Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru

Kepemiminan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan.

Terdapat empat faktor untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yang dikenal sebutan 4 I, yaitu : idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration.

  1. Idealized influence: kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah.

  1. Inspirational motivation: kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.

  1. Intellectual Stimulation: kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik.

  1. Individual consideration: kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya.

Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya.

Karena kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sunggug-sungguh dari yang bersangkutan. Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut:

  1. Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
  2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi
  3. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama
  4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi
  5. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan
  6. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi

( Sumber Adaptasi dari : John Hall, et.al. 2002. Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates. )

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.


1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah sebagai manajer

Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.


3. Kepala sekolah sebagai administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.


4. Kepala sekolah sebagai supervisor

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, — tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran
Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik


5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).


6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003)
7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

D. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Kompetensi guru merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..

2. Kompetensi guru terdiri dari kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi professional

3. Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya.

4. Kepala sekolah memiliki peranan yang strategis dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, baik sebagai educator (pendidik), manajer, administrator, supervisor, leader (pemimpin), pencipta iklim kerja maupun sebagai wirausahawan.

5. Seberapa jauh kepala sekolah dapat mengoptimalkan segenap peran yang diembannya, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, dan pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

6. Kemampuan kepala sekolah membimbing pendidik dan tenaga kependidi kan, siswa, perkembangan ilmu pengetahuan dan dapat memberi contoh mengajar yang baik.

7. Misi Kepala Sekolah :

a. Menyehatkan manajemen sekolah

b. Mencerdaskan siswa

c. Membangun sikap, moral, pribadi

d. Penguasaan Iptek dan Informasi

DAFTAR PUSTAKA :

Bambang Budi Wiyono. 2000. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Semangat Kerja Guru dalam Melaksanakan Tugas Jabatan di Sekolah Dasar. (abstrak) Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat, Teori, dan Praktik Kependidikan. Universitas Negeri Malang. (Accessed, 31 Oct 2002).

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Kepala Sekolah TK,SD, SMP, SMA, SMK & SLB, Jakarta : BP. Cipta Karya

———–. 2006. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. http://www.depdiknas.go.id/ inlink. (accessed 9 Feb 2003).

Louise Moqvist. 2003. The Competency Dimension of Leadership: Findings from a Study of Self-Image among Top Managers in the Changing Swedish Public Administration. Centre for Studies of Humans, Technology and Organisation, Linköping University.

Mary E.Dilworth & David G. Imig. Professional Teacher Development and the Reform Agenda. ERIC Digest. 1995. . (Accessed 31 Oct 2002 ).

National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS HomePage.. (Accessed, 31 Oct 2002).

Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.

Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.


*)) Akhmad Sudrajat, M.Pd. adalah staf pengajar di Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan

Kepemiminan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan.

Terdapat empat faktor untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yang dikenal sebutan 4 I, yaitu : idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration.

  1. Idealized influence: kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah.
  2. Inspirational motivation: kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.
  3. Intellectual Stimulation: kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik.
  4. Individual consideration: kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya.

Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya.

Karena kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sunggug-sungguh dari yang bersangkutan. Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut:

  1. Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
  2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi
  3. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama
  4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi
  5. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan
  6. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi

Sumber:

Adaptasi dari :

John Hall, et.al. 2002. Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates. on line : www.edis.ifas.ufl.edu

SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN

•f1808 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia adalah Negara besar yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa dengan wilayah yang terdiri dari ribuan pulau dan kepulauan. Letaknya sangat strategis di antara benua Asia dan Australia dengan iklim tropis memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Indonesia kaya dengan sumber-sumber daya alam baik dalam bumi berupa hasil-hasil pertambangan, di atas bumi tanam-tanaman sumber bahan makanan dan industri, dan dalam laut berupa bermacam-macam biota laut.

Kondisi bangsa yang semakin terpuruk dalam berbagai dimensi kehidupan yang ditandai dengan krisis ekonomi serta krisis multi dimensi membuat masyarakat Indonesia tidak sanggup menangggung beban hidup yang semakin menghimpit. Berbagai persoalan hidup bermunculan seperti kemiskinan, pengangguran, bencana alam, kriminalitas, harga bahan pokok semakin melonjak, serta biaya pendidikan yang semakin tinggi. . Setelah merdeka, bebas dari penjajahan, pembangunan Indonesia dimulai melalui tiga periode : 1956-1965 di bawah pemerintahan presiden Soekarno, 1967-1997 di bawah pemerintahan orde baru Suharto, dan periode reformasi sekarang yang belum jelas hasil-hasil pembangunannya.

Hal ini menggugah jiwa patriotis dari kalangan mahasiswa dan masyrakat.Dipelopori oleh mahasiswa yang didukung oleh beberapa tokoh seperti Amin Rais, gerakan untuk menunutut perubahan yang mendesak terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang tidak popular di mata masyarakat mulai berkumandang di seluruh penjuru tanah air. Rezim Orde Baru yang memerintah lebih dari 30 tahun (1965-19970 yang mustahil untuk dilengserkan berhasil dibuat tidak berdaya oleh suara lantang rakyat dan mahasiswa. Karena suara rakyat yang tertindas adalah suara Tuhan, ini yang membuat gerakan menuntut perubahan semakin kuat dari stiap bangsa Indonesia.
Alhasil, perjuangan untuk menuntut perubahan di negeri ini dapat diraih yang ditandai dengan runtuhnya rezim orde baru walaupun harus mengorbankan jiwa dan raga. Dari sinilah muncul berbagai ide untuk lebih memaksimalkan pembangunan bangsa yang adil dan merata.

Daerah-daerah mulai berani menuntut haknya, yakni otonomi daerah. Mereka melihat bahwa sitem sentralistik yang yang selama ini dijalankan tidak berhasil membawa Indonesia kea rah yang lebih baik. Pembangunan lebih banyak di pusat atau daerah tertentu sedangkan daerah penghasil devisa besar justru terbelakang.

Berbagai desakan dilakukan oleh daerah termasuk mengancam keluar dari NKRI jika tuntutan mereka tidak dipenuhi., Akhirnya UU otonomi daerah oleh pemerintah dan DPR disepakati untuk disyahkan maka pada tahun 1999 yaituUU No 22/1999.Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka wewenang untuk mengurus daerah sendiri mulai dirancang oleh masing-masing daerah.

Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah, persoalan demi persoalan mulai muncul. Isu sumber daya manusia yang sangat minim menjadi penyebab utama. Demikian halnya dengan persoalan pendidikan yang mana turut menjadi wewenang daerah menjadi pro-kontra di masyarakat.Dalam makalah ini kami akan membahas tentang pengertian otonomi, sentralisasi, dan desentralisasi;otonomi pendidikan, sentralisasi pendidikan, dan desentralisasi pendidikan; pembenahan pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH.

1.Konsep dasar sentralistik dan desentralistik Pendidikan.

2.Kekuatan , Kelemahan Sentralisasi dan desentralisasi pendidikan

BAB II

URAIAN MASALAH

A. Pradigma Pembangunan Pendidikan

Pendidikan mengambil peran penting dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa saat ini. Akan tetapi berbagai upaya yang telah pemerintah lakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan belum menunjukkan hasil yang memuasklan. Dari Laporan UNDP menunjukkan angka Human Development Indeks (HDI) masyarakat Indonesia yang menjadi salah satu indikator mutu pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain di Asia. Kondisi rendahnya mutu pendidikan ini disebabkan oleh kebijakan pembangunan di bidang pendidikan yang berorientasi pada input-output analisis cenderung dilaksanakan secara birokratik-sentralistik.

Oleh karena itu paradigma pembangunan pendidikan perlu di ubah sebagaimana telah diamanatkan Undang-undang yaitu perubahan paradikma sentralistik kearah desentralisasi dengan dengan basis masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat merupakan salah satu solusi alternatif untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan pendidikan berbasis masyarakat diharapkan mutu pendidikan memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya

Krisis ekonomi yang dimulai dengan krisis moneter 1997 tidak kunjung pulih, di mana negara-negara Asia lainnya telah pulih hanya dalam 2-3 tahun.Dalam kondisi seperti ini, sektor pendidikan mengalami tantangan-tantangan yang besar, ditambah lagi dengan adanya tuntutan-tuntutan dari perubahan-perubahan lingkungan gelobal, bergesernya ekonomi industri ke ekonomi pengetahuan (knowledge economy) , inovasi dan kemajuan teknologi yang mempengaruhi tuntutan pendidikan, tuntutan kompetensi dalam dunia kerja yang berubah, berkembangnya otonomi daerah yang tidak hanya sekedar aspek politik, tetapi harus mempunyai manfaat ekonomi dan pembangunan umumnya; sumber-sumber daya alam yang makin terbatas, dan lain-lain.

B.Pradigma Pembangunan Pendidikan dari tingkat dasar,menengah sampai

Pendidikan Tinggi

Untuk itu diperlukan paradigma baru dalam bidang pendidikan dari tingkat dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Paradigma baru tersebut mungkin menyangkut pemikiran tentang masalah-masalah berikut ini:

  1. Perkembangan pemikiran pendidikan di Indonesia semenjak kemerdekaan hingga saat ini tampaknya belum menemukan konsep pendidikan yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
  2. Adanya otonomi daerah tidak boleh meninmbulkan frgamentasi kebijaksanaan pendidikan nasional, walaupun hanya terbatas pda pendidikan tingkat dasar dan menengah.
  3. Ada pendapat untuk mengatasi kemandekan pemikiran pendidikan, kita harus kembali pada pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Muhammad Syafei. Pemikiran itu pada masa lalu timbul dalam semangat politik non-cooperation terhadap penjajahan Belanda, dan untuk menumbuhkan nasionalisme dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Sekarang baik lingkungan nasional dan maupun lingkungan global sudah sangat berbeda. Indonesia sudah merdeka 62 tahun.
  4. Konsep dan pelaksanaan pendidikan di Eropah didasarka pada pada Link & Match antara University dan Industry modern, antara dunia pendidikan dengan dunia kerja; di Cina adalah belajar selama hidup atau LLL ( Life Long Learning) dan tepat waktu atau Just in Time Learning (JiTL), di Jepang kreativitas dan praktik dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di Indonesia konsep dan pelaksanaannya bagaimana? Kalau kita mau mencontoh, yang mana yang lebih cocok dan mungkin bagi Indonesia.
  5. Dalam kurikulum pendidikan kita mana yng lebih baik: menggunakan kurukulum leading atau following. Dan dalam kurikulum, apakah strateginya banyak tapi dapat sedikit, atau sedikit tapi dapat banyak? Jangan dibebani murid-murid sekolah dengan terlalu banyak pelajaran, dan adanya anggapan bahwa beberapa mata pelajaran yang overlaping antara sekolah dasar, menengah pertama dan menengah lanjutan.
  6. Antara pendidikan dan kebudayaan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan tidak hanya dalam konsep tetapi dalam kelembagaan, karena budaya itu adalah values bukan hanya artifact.
  7. Pendidikan adalah human investment antar generasi, karena itu perlu strategi jangka panjang, yang seharusnya tidak terbatas pada periode-periode satu pemerintahan, apalagi terbatas hanya pada periode seorang menteri.

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR SENTRALISASI PENDIDIKAN

Sentralisasi adalah seluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat. Daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut UU. Menurut ekonomi manajemen sentralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama

Dalam era reformasi deawasa ini, diberlakukan kebijakan otonomi yang seluas-luasnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Otonomi daerah merupakan distribusi kekuasaan secara vertikal. Distribusi kekuasan itu dari pemerintah pusat ke daerah, termasuk kekuasaan dalam bidang pendidikan. Dalam pelaksanaan otonomi daerah di bidang pendidikan tampak masih menghadapi berbagai masalah. Masalah itu diantaranya tampak pada kebijakan pendidikan yang tidak sejalan dengan prinsip otonomi daerah dan masalah kurang adanya koordinasi dan sinkronisasi. Kondisi yang demikian dapat menghadirkan beberapa hal, seperti : kesulitan pemerintah pusat untuk mengendalikan pendidikan di daerah; daerah tidak dapat mengembangkan pendidikan yang sesuai dengan potensinya. Apabila hal ini dibiarkan berbagai akibat yang tidak diinginkan bisa muncul. Misalnya, kembali pada kebijakan pendidikan yang sentralistis, tetapi sangat dimungkinkan juga daerah membuat kebijakan pendidikan yang dianggapnya paling tepat meskipun sebenarnya bersebrangan dengan kebijakan pusat.

Kalau hal ini terjadi maka konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sulit dihindari. Dalam sejarah konflik kepentingan pusat dan daerah memicu terjadinya upaya – upaya pemisahan diri yang tentunya mengancam disintegrasibangsa.

Dengan perkataan lain apabila kebijakan pendidikan dalam konteks otonomi daerah tidak dilakukan upaya sinkronisasi dan koordinasi dengan baik, tidak mustahil otonomi tersebut dapat mengarah pada disintegrasi bangsa. Dalam kondisi demikian diperlukan cara bagaimana agar kebijakan pendidikan di daerah dengan pusat ada sinkronisasi dan koordinasi. Juga perlu diusahakan secara sistematis untuk membina generasi muda untuk tetap memiliki komitmen yang kuat dibawah naungan NKRI. Masalah sinkronisasi dan koordinasi kebiajakan pendidikan dan upaya membina generasi muda yang berorientasi memperkuat integrasi bangsa menjadi fokus dalam makalah

B. KEKUATAN DAN KELEMAHAN SENTRALISASI PENDIDIKAN

Indonesia sebagai negara berkembang dengan berbagai kesamaan ciri sosial budayanya, juga mengikuti sistem sentralistik yang telah lama dikembangkan pada negara berkembang. Konsekuensinya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia serba seragam, seba keputusan dari atas, seperti kurikulum yang seragam tanpa melihat tingkat relevansinya bai kehidupan anak dan lingkungannya.

Konsekuensinya,posisi dan peran siswa cenderung dijadikan sebagai objek agar yang memiliki peluang untuk mengembangkan kreatifitas dan minatnya sesuai dengan talenta yang dimilikinya. Dengan adanya sentralisasi pendidikan telah melahirkan berbagai fenomena yang memperhatikan seperti :

1. Totaliterisme penyelenggaraan pendidikan

2. Keseragaman manajemen, sejak dalam aspek perencanaan, pengelolaan, evaluasi, hingga model pengembangan sekolah dan pembelajaran.

3. Keseragaman pola pembudayaan masyarakat

4. Melemahnya kebudayaan daerah

5. Kualitas manusia yang robotic, tanpa inisiatif dan kreatifitas.

Dengan demikian, sebagai dampak sistem pendidikan sentralistik, makaupaya mewujudkan pendidikan yang dapat melahirkan sosok manusia yang memiliki kebebasan berpikir, mampu memecahkan masalah secara mandiri, bekerja dan hidup dalam kelompok kreatif penuh inisiatif dan impati, memeliki keterampilan interpersonal yang memadai sebagai bekal masyarakat menjadi sangat sulit untuk di wujudkan.

C. KONSEP DASAR DESENTRALISASI PENDIDIKAN

Desentralisasi di Indonesia sudah ada cukup lama, dimulai sejak tahun 1973, yaitu sejak diterbitkannya UU no. 5 tahun 1973 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah otonomi dan pokok-pokok penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi tugas pusat dan daerah. Dan terdapat pula pada PP No. 45 tahun 1992 dan dikuatkan lagi melalui PP No. 8 tahun 1995.Menurut UU No.22, desentralisasi dikonsepsikan sebagai penyerahan wewenang yang disertai tanggung jawab pemerintah oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom.

Beberapa alasan yang mendasari perlunya desentralisasi :

1. Mendorong terjadinya partisipasi dari bawah secara lebih luas.

2. Mengakomodasi terwujudnya prinsip demokrasi.

3. Mengurangi biaya akibat alur birokrasi yang panjang sehinmgga dapat meningkatkan efisiensi.

4. Memberi peluang untuk memanfaatkan potensi daerah secara optimal.

5. Mengakomodasi kepentingan poloitik.

6. Mendorong peningkatan kualitas produk yang lebih kompetitif.

Desentralisasi Community Based Education mengisyaratkan terjadinya perubahan kewenangan dalam pemerintah antara lain :

a. Perubahan berkaitan dengan urusan yang tidak diatur oleh pemerintah pusat, secara otomatis menjadi tangung jawab pemerintah daerah, termasuk dalam pengelolaan pendidikan.

b. Perubahan berkenaan dengan desentralisasi pengelolaan pendidikan.dalam hal ini pelempahan wewenang dalam pengelolaan pendidikandan pemerintah pusat kedaerah otonom, yang menempatkan kabupaten / kota sebagai sentra desentralisasi.

Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan kepada orang-orang pada level bawah ( daerah ). Pada sistem pendidikan yang terbaru tidak lagi menerapkan sistem pendidikan sentralisasi, melainkan sistem otonomi daerah atau otda yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan yang tadinya diputuskan seluruhnya oleh pemerintah pusat. Kelebihan sistem ini adalah sebagian keputusan dan kebijakan yang ada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa campur tangan pemerintah pusat. Namun kekurangan dari sistem ini adalah pada daerah khusus, euforia yang berlebihan dimana wewenang itu hanya menguntungkan pihak tertentu atau golongan serta dipergunakan untuk mengeruk keuntungan para oknum atau pribadi.

Hal ini terjadi karena sulit dikontrol oleh pemerinah pusat.Desentralisasi pendidikan suatu keharusan Rontoknya nilai-nilai otokrasi Orde Baru telah melahirkan suatu visi yang baru mengenai kehidupan masyrakat yang lebih sejahtera ialah pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia, hak politik, dan hak asasi masyarakat (civil rights). Kita ingin membangun suatu masyarakat baru yaitu masyarakat demokrasi yang mengakui akan kebebasan individu yang bertanggungjawab. Pada masa orde baru hak-hak tersebut dirampas oleh pemerintah.

Keadaan ini telah melahirkan suatu pemerintah yang tersebut dan otoriter sehingga tidak mengakui akan hak-hak daerah. Kekayaan nasional, kekayaan daerah telah dieksploitasi untuk kepentingan segelintir elite politik. Kejadian yang terjadi berpuluh tahun telah melahirkan suatu rasa curiga dan sikap tidak percaya kepada pemerintah. Lahirlah gerakan separtisme yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, desentralisasi atau otonomi daerah merupakan salah satu tuntutan era reformasi. Termasuk di dalam tuntutan otonomi daerah ialah desentralisasi pendidikan nasional.Ada tiga hal yang berkaitan dengan urgensi desentralisasi pendidikan yaitu pembangunan masyarakat demokrasi, pengembangan sosial capital, dan peningkatan daya saing bangsa ( H.A.R Tialar, 2002).

1. Masyarakat Demokrasi
Masyarakat demokrasi atau dalam khasanah bahasa kita namakan masyarakat madani (civil society) adalah suatu masyarakat yang antara lain mengakui hak-hak asasi manusia. Masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang terbuka dimana setiap anggotanya merupakan pribadi yang bebas dan mempunyai tanggung jawab untuk membangun masyarakatnya sendiri. Pemerintah dalam masyrakat madani adalah pemerintahan yang dipilih oleh rakyat dan untuk kepentingan rakyat sendiri. Masyarakat demokrasi memerlukan suatu pemerintah yang bersih (good and clean governance).
2. Pengembangan “Social Capital”
Para ahli ekonomi seperti Amartya Sen, pemenang Nobel Ekonomi tahun 1998, menekankan kepada nilai-nilai demokrasi sebagai bentuk social capital yang menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi dan kehidupan yang lebih manusiawi. Demokrasi sebagai social capital hanya bias diraih dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang menghormati nilai-nilai demokrasi tersebut. Suatu proses belajar yang tidak menghargai akan kebebassan berpikir kritis tidak mungkin menghidupkan nilai-nilai demokrasi sebagai social capital suatu bangsa.


Sistem pendidikan yang sentralistik yang mematikan kemampuan berinovasi tentunya tidak sesuai dengan pengembangan suatu masyarakat demokrasi terbuka. Oleh sebab itu, desntralisasi pendidikan berarti lebih mendekatkan proses pendidikan kepada rakyat sebagai pemilik pendidikan itu sendiri. Rakyat harus berpartisipasi di dalam pembentukan social capital tersebut. Ikut sertanya rakyat di dalam penyelenggaraan pendidikan dalam suatu masyarakat demokrasi berarti pula rakyat ikut membina lahirnya social capital dari suatu bangsa.


3. pengembangan Daya saing
Di dalam suatu masyarakat demokratis setiap anggotanya dituntut partisipasi yang optimal dalam pengembangan kehidupan pribadi dan masyarakatnya. Di dalam kehidupan bersama tersebut diperlukan kemampuan daya saing yang tinggi di dalam kerja sama. Di dalam suatu masyarakat yang otoriter dan statis, daya saing tidak mempunyai tempat. Oleh sebab itu, masyarakat akan sangat lamban perkembangannya. Masyarakat bergerak dengan komando dan oleh sebab itu sikap masa bodoh dan menunggu merupakan ciri dari masyarakat otoriter.


Daya saing di dalam masyarakat bukanlah kemampuan untuk saling membunuh dan saling menyingkirkan satu dengan yang lain tetapi di dalam rangka kerjasama yang semakin lama semakin meningkat mutunya. Dunia terbuka, dunia yang telah menjadi suatu kampung global (global village) menuntut kemampuan daya saing dari setiap individu, setiap masyarakat, bahkan setiap bangsa. Eksistensi suatu masyarakat dan bangsa hanya dapat terjamin apabila dia terus-menerus memperbaiki diri dan menibkatkan kemampuanya. Ada empat faktor yang menentukan tingkat daya saing seseorang atau suatu masysrakat. Faktor-fator tersebut adalah intelegensi, informasi, ide baru, dan inovasi.

B.KEKUATAN DAN KELEMAHAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN
Dari beberapapengalaman di negara lain,kegagalan disentralisasi di akibatkan oleh beberapa hal :

1. Masa transisi dari sistem sentralisasi ke desintralisasi ke memungkinkan terjadinya perubahan secara gradual dan tidak memadai serta jadwal pelaksanaan yang tergesa-gesa.

2. Kurang jelasnya pembatasan rinci kewenangan antara pemerintah pusat, propinsi dan daerah.

3. Kemampuan keuangan daerah yang terbatas.

4. Sumber daya manusia yang belum memadai.

5. Kapasitas manajemen daerah yang belum memadai.

6. Restrukturisasi kelembagaan daerah yang belum matang.

7. Pemerintah pusat secara psikologis kurang siap untuk kehiulangan otoritasnya.

Berdasarkan pengalaman, pelaksanaan disentralisasi yang tidak matang juga melahirkan berbagai persoalan baru, diantaranya :

1. Meningkatnya kesenjangan anggaran pendidikan antara daerah,antar sekolah antar individu warga masyarakat.

2. Keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan masyarakat (orang tua) menjadikan jumlah anggaran belanja sekolah akan menurundari waktu sebelumnya,sehingga akan menurunkan motivasi dan kreatifitas tenaga kependidikan di sekolahuntuk melakukan pembaruan.

3. Biaya administrasi di sekolah meningkat karena prioritas anggarandi alokasikan untuk menutup biaya administrasi, dan sisanya baru didistribusikan ke sekolah.

4. Kebijakan pemerintah daerah yang tidak memperioritaskan pendidikan, secara kumulatif berpotendsi akan menurunkan pendidikan.

5. Penggunaan otoritas masyarakat yang belum tentu memahamisepenuhnya permasalahandan pengelolaan pendidikan yang pada akhirnya akan menurunkan mutu pendidikan.

6. Kesenjangan sumber daya pendidikan yang tajam di karenakan perbedaan potensi daerah yang berbeda-beda. Mengakibatkan kesenjangan mutu pendidikan serta melahirkan kecemburuan sosial.

7. Terjadinya pemindahan borok-borok pengelolaan pendidikan dari pusat ke daerah.

Untuk mengantisipasi munculnya permasalahan tersebut di atas, disentralisasi pendidikan dalam pelaksanaannya harus bersikap hati-hati. Ketepatan strategi yang ditempuh sangat menentukan tingkat efektifitas implementasi disentralisasi. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk tersebut ada beberapa hal yang perlu di perhatikan :

1. Adanya jaminan dan keyakinan bahwa pendidikan akan tetap berfungsi sebagai wahana pemersatu bangsa.

2. Masa transisi benar-benar di gunakan untuk menyiapkan berbagai halyang dilakukan secara garnual dan di jadwalkan setepat mungkin.

3. Adanya kometmen dari pemerintah daerah terhadappendidikan, terutama dalam pendanaan pendidikan.

4. Adanya kesiapan sumber daya manusia dan sistem manajemen yang tepat yang telah dipersiapkan dengan matang oleh daerah.

5. Pemahaman pemerintah daerah maupunDPRD terhadap keunikan dan keberagaman sistem pengelolaan pendidikan, dimana sistem pengelolaan pendidikan tidak sama dengan pengelolaan pendidikan daerah lainnya.

6. Adanya kesadaran dari semua pihak (pemerintah, DPRD, masyarakat) bahwa pengelolaan tenaga kependidikan di sekolah, terutama guru tidak sama dengan pengelolaan aparat birokrat lainnya.

7. Adanya keiapan psikologis dari pemerintah pusat dari propinsi untuk melepas kewenangannya pada pemerintah kabupaten / kota.

Selain dampak negatif tentu saja disentralisasi pendidikan juga telah membuktikan keberhasilan antara lain :

1. Mampu memenuhi tujuan politis, yaitu melaksanakan demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan.

2. Mampu membangun partisifasi masyarakat sehingga melahirkan pendidikan yang relevan, karena pendidikan benar0benar dari oleh dan untuk masyarakat.

3. Mampu menyelenggarakan pendidikan secara menfasilitasi proses belajar mengajar yang kondusif, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas belajar siswa.

BAB IV

P E N U T U P


A. KESIMPULAN


Pengelolaan pendidikan yang baik akan menghasilkan Indonesia yang baru.Desentralisasi pendidikan merupakan suatu keharusan jika kita ingin cepat mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Melalui pendidkan yang demokratis akan melahirkan masyarakat yang kritis dan bertanggung jawab.

Masyarakat yang demokratis akan mampu menciptakan masyarakat madani yaitu masyarakat yang berbudaya tinggi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang mana sangat menghargai hak-hak asasi manusia.

Desntralisasi pendidikan perlu dijaga dari kemungkinan –kemungkinan terjadi hal-hal negatif seperti desentralisasi kebablasan, misalnya penyerahan tanggung jawab pendidikan kepada daerah for the sake of autonomy. Apabila penyerahan wewenang tersebut hanyalah sekadar memindahkan birokrasi pendidikan dan sentralisasi pendidikan di tingkat daerah, maka desnralisasi tersebut akan mempunyai nasib yang sama sebagaimana yang kita kenal pada masa orde baru.

B. SARAN – SARAN

  1. Kebijakan pendidikan seharusnya bersifat akomodatif terhadap aspirasi rakyatnya sebagai konsekuensi Indonesia menganut sistem politik demokrasi. Dengan diberlakukan otonomi daerah yang termasuk di dalamnya otonomi bidang pendidikan, maka kebijakan pendidikan yang demokratis telah mendapat wadah pengejawantahannya secara jelas.
  2. Untuk itu dalam konteks kepentingan upaya mewujudkan integrasi bangsa perlu kebijakan pendidikan diorientasikan pada peningkatan mutu SDM dan pemerataannya di daerah.
  3. Lakasanakan amandemen UUD 1945 pasal 33 UUD 1945 yang mengamanatkan pengelolaan anggaran minimal 20 % dari APBN.
  4. Persiapkan pelaksanaan otonomi pendidikan yang aplikasinya di mulai dengan upaya-upaya penguatan manajemen sekolah
  5. Ide dasar desentralisasi pendidikan di era otonomi daerah adalah pengembangan pendidikan berbasis masyarakat (school based managemen / community)
  6. Berkaitan dengan otonomi pendidikan yang perlu juga di perhatikan adalah mewujudkan organisasi pendidikan di seluruh kabupaten yang lebih demokratis, transparan, efisien melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah dengan pembentukan Majelis Sekolah.
  7. Dalam konteks desentralisasi, pembelajaran yang berlangsung di lembaga pendidikan hendaknya sudah menjadikan pemerintah pada posisi ”Fasilitator” dan “bukan pengendali”.
  8. Realitas birokrasi pendidikan yang terjadi saat ini dalamperfektif manajemen tidaklah menguntungkan.
  9. Pada tingkat praktis-pragmatis, sekolah yang menentukan bagaimana tujuan umum tersebut dicapai dengan keterlibatan penuh semua elemen sekolah

Daftar pustaka

Analisis, Tahun XXIX/2000, No 1. ”Otonomi daerah, penyelesaian atau masalah?
”Program Pembanguna Nasional (Propenas) 2000-2004”. Republik Indonesia, 2000
Andrias Harefa, Menjadi manusia pembelajar, kompas media Indonesia Jakarta, 2001

Bobbi DePorter dkk, Quantum Learning, penerbit kaifa, Bandung, 2001

H A R. Tilaar, Paradigma baru pendidikan nasional, Rineka Cipta, Jakarta 2000.

H A R. Tialar, Membenahi pendidikan nasional, Rineka cipta, Jakarta, 2002

Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997

Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan

Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press

Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur

Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila, Jakarta:Depdikbud

Ki Fudyatanta, filsafat pendidikan barat dan filsafat pendidikan pancasila, Amus jogjakarta,2006

Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ.

Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars

Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP IKIP Bandung

Sumarno Sudarsono, The willingness to change,Jakrta,2006

RakaJoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud



TUGAS MATA KULIAH

LANDASAN PENDIDIKAN

JUDUL

SENTRALISTIK DAN DESENTRALISTIK PENDIDIK

DOSEN PEMBIMBING

PROF.Dr. Dwi Nugroho Hidayanto

O L E H

Kelompok 5

1. Parmono

2. Abdul Syahid

3. Antoni Lamini

4. Titik .P.

5. Iswatun

PROGRAM PASCA SARJANA

PROGRAM STUDI TEHNOLOGI PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

TAHUN 2008

KATA PENGANTAR

Dengan mengharap Ridho Allah subkhanahu wata’ala yang telah melimpahkan

Rahmad dan Hidayahnya kepada kita semua serta Sholawat dan salam kita curahkan

kepada Junjungan Nabi kita Muhammad SAW,semoga safaat tercurahkan kepadanya

dan kepada kita semua Amin ya Robbal “alamin.sehingga kelompok kami dapat

menyelasaikan tugas makalah ini sebagai tugas yang diberikan kepada kami dalam mata

kuliah Landasan Pendidikan.

Dan tak lupa kami ucapkan terima kasih atas bantuan dan partisipasinya

terutama kelompok kami yang telah meluangkan waktu dan tenaga didalam penyusunan

makalah ini.Kamipun menyadari bahwa didalam penyusunan ini masih terdapat

kekurangan dan kekilafan karana itu kami mengharapkan saran dan kritik guna perbaikan

/penyempurnaan makalah kami dengan harapan akan berguna /manfaat untuk orang lain.

Bontang, April 2008

Kelompok 5

Teori Ekonomi Internasional

•f808 • Tinggalkan sebuah Komentar

A. Perdagangan Internasional

Pada era kesejagatan seperti saat ini, hampir bisa dikatakan tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak menjalin hubungan dengan negara lain. Hubungvan antarnegara umumnya dilakukan oleh Negara-negara di dunia ini dengan cara mendirikan perwakilan Negara tersebut di Negara lain seperti kedutaan besar, konsulat jenderal atau perwakilan setingklat atase. Dalam bidang ekonomi, hubungan dengan negara lain diwujudkan dalam bentuk saling mengadakan kegiatan perdagangan atau yang dikenal sebagai perdagangan internasional.

Perdagangan internasional memberikan keuntungan bagi negara-negara pelakunya, karena negara dapat menjual barang-barangnya ke luar negeri yang dapat meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan penduduknya.

1. Pengertian Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah hubungan perdagangan barang dan jasa antar dua negara atau lebih. Batasan lain tentang perdagangan internasional adalah proses tukar-menukar barang dan jasa kebutuhan antara dua negara atau lebih yang berbeda hukum dan kedaulatan dengan memenuhi peraturan yang diterima secara internasional.

2. Faktor-faktor yang mendorong perdagangan internasional

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya perdagangan internasional adalah sebagai berikut.

a. Perbedaan sumber daya alam

Perbedaan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara akan berpengaruh pada ketersediaan barang-barang kebutuhan yang dapat disediakan oleh Negara tersebut. Kondisi ini menyebabkan suatu negara tidak mempunyai ketersediaan sumber daya alam mendatang barang atau sumber-sumber daya produksi yang dibutuhkannya dari Negara lain. Misalnya Jepang membutuhkan migas untuk sumber energi industrinya, namun Negara tersebut tidak memiliki sumber daya alam migas, sehingga akan mengimpor dari Indonesia. Demikian juga Indonesia, membutuhkan

b. Kondisi saling membutuhkan

Pada dasar tidak ada satupun negara yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup rakyatnya secara mandiri. Oleh karena itu secara sadar setiap negara akan membuka hubungan perdagangan dengan negara lain untuk memperoleh barang-barang kebutuhan yang tidak dapat diproduksi di negara tersebut.

c. Perbedaan kapasitas produksi

Kapasitas atau kemampuan produksi barang setiap negara berbeda-beda. Apabila kapasitas produksi barang negara tersebut tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan maka akan mendorong negara tersebut mendatangkannya dari negara lain. Demikian juga apabila kapasitas produksi barang disuatu negara berlebih (surplus) akan mendorong negara tersebut mencar pasar ke negara lain.

d. Efisiensi biaya

Efisiensi biaya produksi juga menjadi pertimbangan suatu negara melakukan kegiatan perdagangan dengan negara lain. Suatu barang yang dibutuhkan mungkin bisa diproduksi di dalam negeri. Tetapi apabila biaya produksi yang dikeluarkan lebih tinggi dari harga jual barang sejenis yang diproduksi negar lain, maka lebih baik suatu negara mendatangkan barang tersebut dari negara lain.

3. Manfaat Perdagangan Internasional

Manfaat perdagangan internasional bagi suatu negara, antara lain:

a. Memenuhi kebutuhan suatu barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri

b. Menerima devisa dari bea impor dan ekspor barang

c. Terjadi alih tekhnologi yang saling menguntungkan

d. Memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi dalam negeri

e. Mempercepat pertumbuhan ekonomi

f. Mempererat hubungan persahabatan antar negara

4. Hambatan dalam Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara tidak lepas dari kemungkinan adanya faktor-faktor penghambat. Hambatan-hambatan perdagangan internasional antara lain sebagai berikut:

a. Kebijakan proteksi

Kebijakan proteksi adalah tindakan pemerintah yang membatasi masuknya barang impor ke dalam negeri. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi (protection) industri dalam negeri dari kemungkinan bangkrut sebagai akibat serbuan pasar barang sejenis dari luar negeri.

b. Penetapan Tarif impor

Penetapan tarif impor adalah pembebanan bea masuk (import duties) terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara. Jenis-jenisnya ialah bea ad valorem (bea harga), bea specific, dan bea compound (bea specific ad valorem). Tarif impor akan dibebankan pada harga jual barang atau jasa yang akan dibeli konsumen, sehingga menyebabkan harga barang atau jasa bertambah tinggi.

c. Penetapan Kuota

Kouta adalah pembatasan jumlah barang impor yang masuk ke dalam negeri. Penetapan kuota akan berpengaruh terhadap terbatasnya jumlah barang atau jasa di pasar negara tersebut.

d. Politik Dumping

Politik dumping adalah pemberlakuan harga jual lebih murah di pasar negara importir dibanding harga di negara ekspotir. Tujuan penerapan poltik dumping adalah untuk meningkatkan jumlah ekspor barang ke negara lain.

e. Pemberian Subsidi

Subsidi adalah pemberian dana atau fasilitas dari pemerintah kepada produsen dalam negeri. Tujuan subsidi berupa dana atau fasilitas kepada produsen dalam negeri adalah untuk meningkatkan kapasitas ekspor.

a. Perbedaan Perdagangan Dalam Negeri dengan Perdagangan Internasional

1. Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan dalam negeri atau sering disebut perdagangan domestik meliputi ruang lingkup atau batasan wilayah suatu negara. Perdagangan dalam negeri bisa berupa perdagangan antar desa, perdagangan antar kota, perdagangan antar provinsi, dan perdagangan antarpulau. Sedangkan perdagangan luar negeri atau sering disebut perdagangan internasional meliputi kegiatan ekspor dan impor barang dan jasa antar negara. Misalnya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh negara kita dengan negara Malaysia, Jepang dan AS.

Perdagangan internasional berbeda dengan perdagangan dalam negeri, karena:

a) perdagangan internasional membutuhkan jenis mata uang yang berbeda-beda.

Apabila dalam perdagangan dalam negeri antara penjual dan pembeli menggunakan satu mata uang yang sama, tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana penjual dan pembeli menggunakan mata uang yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan kesepakatan akan penggunaan mata uang tertentu seperti mata uang dollar Amerika (US $) sebagai mata uang standar internasional sebagai alat pembayarannya.

b) Tata cara transaksi dalam perdagangan internasional memakan waktu relative lebih lama dibandingkan perdagangan dalam negeri.

Dalam perdagangan dalam negeri tata cara transaksi umumnya berlangsung singkat dan sederhana. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional. Tata cara transaksi yang terdiri dari kesepakatan harga, pembayaran, dan penyerahan barang memakan waktu yang relative lama karena jarak antara satu Negara dengan Negara lain yang berjauhan dan prosedur ekspor impor yang rumit.

c) Cara pembayaran dalam perdagangan internasional relative lebih rumit dan beresiko tinggi

Pada perdagangan dalam negeri pembeli dan penjual berada dalam satu Negara yang memungkinkan mereka bertemu dan melakukan pembayaran barang secara langsung. Tidak demikian pada perdagangan internasional. Seringkali antara penjual dan pembeli tidak bertemu secara langsung sehingga resiko yang menyertai juga relative besar. Dengan demikian penjual dan pembeli lebih suka menggunakan cara pembayaran dengan melalui perantara lembaga keungan bank dan dengan menggunakan letter of credit (L/C) atau commercial bills of exchange

d) perbedaan kebijakan yang diterapkan dalam pelaksanaan perdagangan internasional

Dalam perdangan dalam negeri kebijakan perdagangan Negara berlaku sama atas semua wilayah Negara sehingga tidak ditemukan kendala. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana masing-masing Negara memiliki kebijakan perdagangan yang mengacu pada kepentingan masing-masing Negara. Sehingga dalam praktik perdagangan kebijak perdagangan bias menjadi penghambat bagi perdagangan antar Negara.

Tabel 2.1

Perbedaan perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri

No

Perbedaan

Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan Luar Negeri

1.

2.

3.

4.

Pajak

Alat pembayaran yang digunakan

Cara pembayaran

Standar mutu barang

Tidak dikenakan pajak ekspor/impor

Menggunakan jenis uang yang sama sehingga tidak mengalami kesulitan

Bisa secara langsung, atau menggunakan jasa bank dalam negeri

Ditetapkan oleh Standar Industri Indonesia (SII)

Dikenakan pajak ekport-impor

Menggunakan jenis uang yang berbeda sehingga harus menggunakan kurs mata uang

Menggunakan jasa bank antar negara melalui letter of credit (LC)

Ditetapkan oleh Internasional Standar Organization (ISO)

b. Komoditas Ekspror Indonesia

Manfaat utama yang bisa diperoleh dari kegiatan perdagangan internasional adalah kesempatan untuk melakukan ekspor barang. Bagi ekonomi suatu negara ekspor dapat memberikan suntikan dana sebagai salah satu sumber pendapatan nasional.

Secara garis besar jenis ekspor Indonesia dibagi dalam dua kelompok, yaitu ekspor minyak bumi dan gas (migas), dan ekspor non migas. Dari kelompok migas ekspor kita terdiri dari minyak mentah, minyak olahan dan gas alam. Sedangkan dari kelompok non migas barang ekspor Indonesia terdiri dari beberapa kelompok yaitu kelompok ekspor barang-barang pertanian, kelompok ekspor barang-barang industri, dan kelompok ekspor barang-barang tambang non migas.

Tabel 3.1

NERACA PERDAGANGAN INDONESIA TOTAL

(Nilai : Juta US$)

NO

URAIAN

2001

2002

2003

2004

2005

TREND(%)
01-05

Jan-Nop 2005

Jan-Nop 2006*

PERUB.(%)
06/05

1

E K S P O R

56.320,9

57.158,8

61.058,2

71.584,6

85.660,0

11,22

77.536,4

91.192,6

17,61

2

MIGAS

12.636,3

12.112,7

13.651,4

15.645,3

19.231,6

11,58

17.406,6

19.300,3

10,88

3

NON MIGAS

43.684,6

45.046,1

47.406,8

55.939,3

66.428,4

11,12

60.129,8

71.892,3

19,56

4

I M P O R **)

30.962,1

31.288,9

32.550,7

46.524,5

57.700,9

17,84

52.811,4

56.055,1

6,14

5

MIGAS

5.471,9

6.525,7

7.610,9

11.732,0

17.457,7

33,73

16.116,4

17.585,0

9,11

6

NON MIGAS

25.490,3

24.763,1

24.939,8

34.792,5

40.243,2

13,35

36.695,0

38.470,1

4,84

7

TOTAL

87.283,0

88.447,6

93.608,9

118.109,1

143.360,8

13,67

130.347,8

147.247,7

12,97

8

MIGAS

18.108,2

18.638,4

21.262,3

27.377,4

36.689,3

19,68

33.523,0

36.885,3

10,03

9

NON MIGAS

69.174,9

69.809,2

72.346,6

90.731,8

106.671,6

11,95

96.824,8

110.362,4

13,98

10

NERACA

25.358,8

25.869,9

28.507,6

25.060,1

27.959,1

1,65

24.725,0

35.137,5

42,11

11

MIGAS

7.164,5

5.587,0

6.040,5

3.913,3

1.773,9

-27,01

1.290,2

1.715,3

32,95

12

NON MIGAS

18.194,3

20.282,9

22.467,0

21.146,8

26.185,1

8,00

23.434,8

33.422,2

42,62

Sumber

:

Badan Pusat Statistik, diolah Departemen Perdagangan

Keterangan

:

*) Angka sementara

**) Belum termasuk impor Batam dan Kawasan Berikat

Ekspor migas dapat dirinci dalam tiga jenis barang yaitu ekspor minyak mentah, produk minyak, dan Gas. Ekspor migas. Tahun 1960-an sampai tahun 1980-an sektor migas benar-benar menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia. Pada masa itu minyak menjadi tumpuan untuk mendapatkan devisa yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Masa itu biasa disebut sebagai masa booming oil, dimana pendapatan negara dari sektor migas sangat dominan.

Hal ini ditunjang oleh harga minyak di pasaran dunia yang relatif tinggi akibat krisis di Timur Tengah yang merupakan pusat pasokan minyak dunia. Namun demikian banyak ahli menjelaskan cadangan minyak bumi kita sangat terbatas sehingga dalam jangka waktu 10 tahun yang akan datang kita akan menjadi pengimpor minyak dan tidak mampu mengekspor minyak lagi

Dengan semakin menurunnya sektor migas sebagai andalam penerimaan devisa ekspor maka, sbagai gantinya negara kita berupaya untuk meningkatkan ekspor non-migas. Saat ini ekspor non-migas Indonesia sudah cukup bermacam jenis barang, misalnya, tekstil, kayu olahan, minyak nabati, barang-barang kimia, batu bara, biji tembaga, kertas, barang-barang elektronik, karet, ikan, barang-barang dari kulit, dan lain-lain.

Tabel 3.2. menunjukkan perkembangan ekspor Indonesia dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Dari tabel tersebut nampak bahwa ekspor Indonesia terus meningkat sejak tahun 2001 sampai dengan 2005.

Tabel 3.2. Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000 s/d 2005 (miliar dollar AS)

Tahun

(0)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

Total Impor

2000

3,5

0,23

4,3

15,7

1,8

3,2

12,3

10,8

9,95

0,4

62,1

2001

3,3

0,3

4,2

14,3

1,5

2,8

11,2

9,1

9,3

0,44

56,3

2002

3,6

0,3

4,5

13,9

2,7

2,97

10,9

9,8

8,2

0,3

57,2

2003

3,7

0,2

5,3

15,7

3,0

3,4

11,2

9,8

8,5

0,3

61,1

2004

3,97

0,3

6,4

18,6

4,5

4,0

12,9

11,5

9,2

0,25

71,6

2005

4,6

0,3

9,0

23,7

5,0

4,5

14,4

13,6

10,3

0,2

85,7

Keterangan :

(0) bahan makanan & binatang hidup, (1)minuman & tembakau, (2)bahan mentah, (3)bahan bakar & bahan penyemir, (4)minyak/lemak nabati dan hewani, (5)bahan kimia, (6)produk-produk industri, (7)mesin & alat pengangkutan, (8)produk-produk industri lainnya, (9)barang & transaksi lainnya.

Dengan menggunakan penggolongan seperti dalam Tabel Tabel 3.2, nampak bahwa grafik eksport kita cenderung terus meningkat. Pada tahun 2001 nilai ekspor Indonesia sebesar 56,3 miliar dollar Amerika Serikat, kemudian meningkat menjadi 85,7 milliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2005

Dari tabel ekspor itu juga, kita dapat melihat bahwa jenis barang ekspor kita yang terbesar adalah kelompok bahan bakar atau migas dan terbesar keduanya adalah produk-produk industri. Produk-produk industri yang banyak kita hasilkan adalah elektronika dan tekstil. Industri elektronik dan industri tekstil adalah industri yang sangat tergantung pada bahan baku impor. Sebagian besar kapas dan komponen elektronik adalah barang impor, maka kedua komoditi ini sangat rentan terhadap pengaruh kondisi ekonomi internasional. Di samping itu kemajuan dalam industri ini tidak akan banyak mempengaruhi sektor agraris karena input berasal dari luar negeri.

Untuk terus meningkatkan kegiatan ekspor sebagai sumber devisa, perlu ditempuh kebijakan-kebijakan seperti di bawah ini:

1. Penganekaragaman barang ekspor

Penganekaragaman barang ekspor terutama non-migas perlu diupayakan dengan memproduksi barang-barang baru yang laku di pasarkan di pasar internasional.

2. Pengendalian harga dalam negeri

Agar harga barang tetap mampu bersaing di pasar internasional dibutuhkan harga yang stabil. Untuk mencapai stabilitas yang mantap dibutuhkan pengendalian harga atau pengendalian inflasi. Inflasi dapat menyebabkan harga-harga bertambah mahal.

3. Pengendalian nilai tukar Rupiah

Karena kegiatan ekspor dan impor menggunakan mata uang internasional, maka dibutuhkan nilai tukar yang stabil sehingga menimbulkan kepastian usaha. Maka nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing perlu distabilkan. Penstabilan nilai tukar merupakan tanggung jawab dari Bank Indonesia.

4. Promosi ekspor

Promosi ekspor dalam bentuk pameran-pameran dagang sangat dibutuhkan untukmemperkenalkan produk-produk baru.

B. Alat Pembayaran Internasional

Perbedaan mata uang antara satu negara dengan negara lain dapat menyebabkan terhambatnya perdagangan antar negara. Oleh karena itu, untuk memperlancar aktivitas perdagangan internasional, negara-negara pelaku perdagangan internasional menggunakan devisa sebagai alat pembayaran.

1. Pengertian Devisa

Devisa diartikan sebagai alat pembayaran luar negeri atau antar negara. Dalam praktik perdagangan internasional dikenal empat jenis devisa yang biasa digunakan sebagai alat pembayaran, yaitu: valuta asing, emas, wesel asing, dan surat-surat berharga.

Devisa dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu:

a) Devisa umum

Devisa umum adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari kegiatan ekspor, penyelenggaraan jasa luar negeri, wesel asing, dan lain-lain.

b) Devisa kredit

Devisa kredit adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari pinjaman luar negeri. Wesel kredit mensyaratkan kewajiban negara tersebut untuk mengembalikan pada negara pembeli pinjaman berdasarkan syarat dan jangka waktu tertentu.

2. Sumber-Sumber Devisa

Perdagangan internasional memerlukan devisa sebagai alat pembayarannya. Oleh karena itu setiap negara yang terlibat dalam perdagangan internasional berusaha memperoleh devisa sebaganyak-banyaknya untuk sewaktu-waktu digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang diperlukan. Sumber-sumber devisa yang umumnya dimiliki oleh suatu negara adalah:

a. Ekspor barang ke luar negeri

Kegiatan ekspor barang ke luar negeri akan menghasilkan pemasukan berupa devisa umum dari negara importir (pembeli). Semakin besar nilai barang yang dapat di ekspor ke luar negeri semakin besar juga devisa yang bisa diperoleh oleh negara tersebut.

b. Penyediaan jasa bagi luar negeri

Kegiatan penyediaan jasa bagi masyarakat luar negeri seperti menyediakan bandara udara dan pelabuhan internasional, akan membuat negara tersebut memperoleh devisa dari masyarakat luar negeri yang berkunjung dan menggunakan jasa-jasa bandar udara atau pelabuhan internasional.

c. Pariwisata

Pariwisata merupakan sumber devisa yang sangat potensial. Dengan melihat angka kunjungan wisatawan manca negara ke Pulau Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta dan lain-lain, maka sektor pariwisata bisa diharapkan dapat menyumbang perolehan devisa yang cukup tinggi bagi penerimaan negara. Namun demikian faktor keamanan dan kenyamanan tinggal harus selalu diutamakan, mengingat jasa pariwisata tidak bisa lepas dari faktor keamanan dan kenyamanan.

d. Hibah luar negeri

Hibah atau hadiah dari negara donatur merupakan bentuk bantuan yang tidak mengikat atau tidak perlu dikembalikan. Hibah devisa dari negara lain bisa diperoleh apabila negara pemberi hibah merasa diuntungkan oleh negara yang memperoleh hibah. Hibah dapat berupa pembebasan atau pengurangan hutang luar negeri.

e. Pinjaman asing

Pinjaman luar negeri termasuk dalam kategori devisa kredit, karena negara yang memperoleh devisa jenis ini wajib mengembalikan dalam jangka waktu tertentu. Pinjaman asing seharusnya diposisikan sebagai pelengkap dari dana yang digunakan bagi kepentingan pembangunan di Indonesia.

3. Penggunaan Devisa

Devisa yang diperoleh oleh negara umumnya terutama digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang dibutuhkan di dalam negeri namun belum bisa diproduksi sendiri. Di samping itu penggunaan devisa antara lain sebagai berikut:

a) membiaya kedutaan dan konsulat di luar negeri,

b) membiayai perjalanan dinas dan kunjungan pejabat ke luar negeri,

c) membiayai misi kebudayaan dan olah raga ke luar negeri,

d) membiayai pengiriman pemuda-pemudi yang tugas belajar di luar negeri,

e) memperoleh jasa dari luar negeri.

C. Dampak Perdagangan Bebas terhadap Perekonomian Indonesia

Perdagangan bebas antar negara saat ini telah mulai dilaksanakan. Sebagai contoh Asean Free Trade Area (AFTA) sebagai kesepakatan dimulainya kawasan perdagangan bebas di antara negara-negara ASEA seperti Indonesia, Malayasia, Thailan, Filiphina dan lain-lain telah dimulai pada tanggal 1 Januari 2003.

Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangai kesepakatan tersebut tidak lepas dari pengaruh kebiajakan-kebijakan perdagangan tersebut. Maka apabila saat ini banyak kita temukan barang-barang produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, hal ini terjadi karena Indonesia harus mematuhi kebijakan perdagangan bebas yang mulai berlaku. Dampak perdagangan bebas bagi perekonomian Indonesia dapat dikelompokan menjadi:

a. Dampak Positif Ekspor

Dampak positif ekspor yang cukup penting diantaranya adalah :

1) Memperluas pasar

Aktivitas ekspor memungkinkan terjadinya perluasan pasar dari pasar domestik ke pasar global.

2) Memperluas lapangan pekerjaan

Bertambahnya pasar sebagai akibat dari kegiatan ekpor menyebabkan suatu industri memperluas usaha yang memungkinkan terserapnya tenaga kerja dalam industri tersebut.

3) Meningkatkan cadangan devisa

Meningkatnya aktivitas ekspor akan menyebabkan arus devisa dari luar negeri masuk ke dalam negera kita yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan impor Indonesia.

b. Dampak Negatif Ekspor

1) Menimbulkan kelangkaan barang di dalam negeri

Tanpa pengaturan yang baik, ekspor bisa menimbulkan kelangakan barang di dalam negeri. Misalnya, kalau minyak sawit mentah diperdagangkan secara bebas ke luar negari maka pasokan minyak sawit (CPO) mentah akan menjadi kurang di dalam negeri. Hal ini terjadi karena harga pasar internasional untuk CPO jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar di dalam negeri.

2) Menyebabkan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam

Dengan adanya ekspor akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang kita miliki. Misalnya ekspor barang-barang tambang telah menyebabkan semakin tipisnya cadangan bahan tambang dan menimbulkan kerusakan alam.

c. Dampak Positif Impor

1) Meningkatkan kesejahteraan konsumen

Dengan adanya impor barang-barang konsumsi, masyarakat Indonesia biasa menggunakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. Sebagai contoh, kita bisa mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang berasal dari tepung terigu padahal negara kita tidak mampu menghasilkan tepung terigu.

2) Meningkatkan industri dalam negeri

Dengan adanya impor, kita mendapatkan kesempatan untuk mengimpor barang-barang modal baik yang berupa mesin-mesin industri maupun bahan baku yang memungkinkan kita untuk mengembangkan suatu industri. Misalnya, industri tekstil Indonesia sangat tergantung pada impor kapas dari luar negeri.

3) Alih teknologi

Dengan adanya impor memungkinkan terjadinya alih teknologi. Secara bertahap negara kita mencoba mengembangkan teknologi moderen untuk mengurangi ketertinggalan kita dengan bangsa-bangsa yang sudah maju. Misalnya, secara bertahap kita mampu mengembangkan rancang bangun di bidang permesinan.

d. Dampak negatif impor

1) Menciptakan pesaing bagi industri dalam negeri

Pada pembahasan diawal kita melihat bahwa dengan adanya impor kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan industri dalam negeri melalui impor barang-barang modal. Namun demikian yang terjadi bisa sebaliknya, industri kita tidak berkembang karena menghadapi pesaing-pesaing dari luar negeri.

2) Menciptakan pengangguran

Dengan mengimpor barang-barang dari luar negeri berarti kita kehilangan kesempatan untuk menghasilkan sendiri barang-barang tersebut, yang sama artinya kita telah kehilangan kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan yang tercipta dari proses memproduksi barang tersebut.

4) Konsumerisme

Konsumsi berlebihan terutama untuk barang-barang mewah merupakan salah satu dampak yang dapat diciptakan dari adanya impor. Pakaian impor mewah, mobil-mobil mewah, alat-alat rumah tangga mewah adalah contoh-contoh konsumerisme yang muncul dalam masyarakat kita.

A. Perdagangan Internasional

Pada era kesejagatan seperti saat ini, hampir bisa dikatakan tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak menjalin hubungan dengan negara lain. Hubungvan antarnegara umumnya dilakukan oleh Negara-negara di dunia ini dengan cara mendirikan perwakilan Negara tersebut di Negara lain seperti kedutaan besar, konsulat jenderal atau perwakilan setingklat atase. Dalam bidang ekonomi, hubungan dengan negara lain diwujudkan dalam bentuk saling mengadakan kegiatan perdagangan atau yang dikenal sebagai perdagangan internasional.

Perdagangan internasional memberikan keuntungan bagi negara-negara pelakunya, karena negara dapat menjual barang-barangnya ke luar negeri yang dapat meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan penduduknya.

1. Pengertian Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah hubungan perdagangan barang dan jasa antar dua negara atau lebih. Batasan lain tentang perdagangan internasional adalah proses tukar-menukar barang dan jasa kebutuhan antara dua negara atau lebih yang berbeda hukum dan kedaulatan dengan memenuhi peraturan yang diterima secara internasional.

2. Faktor-faktor yang mendorong perdagangan internasional

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya perdagangan internasional adalah sebagai berikut.

a. Perbedaan sumber daya alam

Perbedaan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara akan berpengaruh pada ketersediaan barang-barang kebutuhan yang dapat disediakan oleh Negara tersebut. Kondisi ini menyebabkan suatu negara tidak mempunyai ketersediaan sumber daya alam mendatang barang atau sumber-sumber daya produksi yang dibutuhkannya dari Negara lain. Misalnya Jepang membutuhkan migas untuk sumber energi industrinya, namun Negara tersebut tidak memiliki sumber daya alam migas, sehingga akan mengimpor dari Indonesia. Demikian juga Indonesia, membutuhkan

b. Kondisi saling membutuhkan

Pada dasar tidak ada satupun negara yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup rakyatnya secara mandiri. Oleh karena itu secara sadar setiap negara akan membuka hubungan perdagangan dengan negara lain untuk memperoleh barang-barang kebutuhan yang tidak dapat diproduksi di negara tersebut.

c. Perbedaan kapasitas produksi

Kapasitas atau kemampuan produksi barang setiap negara berbeda-beda. Apabila kapasitas produksi barang negara tersebut tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan maka akan mendorong negara tersebut mendatangkannya dari negara lain. Demikian juga apabila kapasitas produksi barang disuatu negara berlebih (surplus) akan mendorong negara tersebut mencar pasar ke negara lain.

d. Efisiensi biaya

Efisiensi biaya produksi juga menjadi pertimbangan suatu negara melakukan kegiatan perdagangan dengan negara lain. Suatu barang yang dibutuhkan mungkin bisa diproduksi di dalam negeri. Tetapi apabila biaya produksi yang dikeluarkan lebih tinggi dari harga jual barang sejenis yang diproduksi negar lain, maka lebih baik suatu negara mendatangkan barang tersebut dari negara lain.

3. Manfaat Perdagangan Internasional

Manfaat perdagangan internasional bagi suatu negara, antara lain:

a. Memenuhi kebutuhan suatu barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri

b. Menerima devisa dari bea impor dan ekspor barang

c. Terjadi alih tekhnologi yang saling menguntungkan

d. Memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi dalam negeri

e. Mempercepat pertumbuhan ekonomi

f. Mempererat hubungan persahabatan antar negara

4. Hambatan dalam Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara tidak lepas dari kemungkinan adanya faktor-faktor penghambat. Hambatan-hambatan perdagangan internasional antara lain sebagai berikut:

a. Kebijakan proteksi

Kebijakan proteksi adalah tindakan pemerintah yang membatasi masuknya barang impor ke dalam negeri. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi (protection) industri dalam negeri dari kemungkinan bangkrut sebagai akibat serbuan pasar barang sejenis dari luar negeri.

b. Penetapan Tarif impor

Penetapan tarif impor adalah pembebanan bea masuk (import duties) terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara. Jenis-jenisnya ialah bea ad valorem (bea harga), bea specific, dan bea compound (bea specific ad valorem). Tarif impor akan dibebankan pada harga jual barang atau jasa yang akan dibeli konsumen, sehingga menyebabkan harga barang atau jasa bertambah tinggi.

c. Penetapan Kuota

Kouta adalah pembatasan jumlah barang impor yang masuk ke dalam negeri. Penetapan kuota akan berpengaruh terhadap terbatasnya jumlah barang atau jasa di pasar negara tersebut.

d. Politik Dumping

Politik dumping adalah pemberlakuan harga jual lebih murah di pasar negara importir dibanding harga di negara ekspotir. Tujuan penerapan poltik dumping adalah untuk meningkatkan jumlah ekspor barang ke negara lain.

e. Pemberian Subsidi

Subsidi adalah pemberian dana atau fasilitas dari pemerintah kepada produsen dalam negeri. Tujuan subsidi berupa dana atau fasilitas kepada produsen dalam negeri adalah untuk meningkatkan kapasitas ekspor.

a. Perbedaan Perdagangan Dalam Negeri dengan Perdagangan Internasional

1. Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan dalam negeri atau sering disebut perdagangan domestik meliputi ruang lingkup atau batasan wilayah suatu negara. Perdagangan dalam negeri bisa berupa perdagangan antar desa, perdagangan antar kota, perdagangan antar provinsi, dan perdagangan antarpulau. Sedangkan perdagangan luar negeri atau sering disebut perdagangan internasional meliputi kegiatan ekspor dan impor barang dan jasa antar negara. Misalnya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh negara kita dengan negara Malaysia, Jepang dan AS.

Perdagangan internasional berbeda dengan perdagangan dalam negeri, karena:

a) perdagangan internasional membutuhkan jenis mata uang yang berbeda-beda.

Apabila dalam perdagangan dalam negeri antara penjual dan pembeli menggunakan satu mata uang yang sama, tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana penjual dan pembeli menggunakan mata uang yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan kesepakatan akan penggunaan mata uang tertentu seperti mata uang dollar Amerika (US $) sebagai mata uang standar internasional sebagai alat pembayarannya.

b) Tata cara transaksi dalam perdagangan internasional memakan waktu relative lebih lama dibandingkan perdagangan dalam negeri.

Dalam perdagangan dalam negeri tata cara transaksi umumnya berlangsung singkat dan sederhana. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional. Tata cara transaksi yang terdiri dari kesepakatan harga, pembayaran, dan penyerahan barang memakan waktu yang relative lama karena jarak antara satu Negara dengan Negara lain yang berjauhan dan prosedur ekspor impor yang rumit.

c) Cara pembayaran dalam perdagangan internasional relative lebih rumit dan beresiko tinggi

Pada perdagangan dalam negeri pembeli dan penjual berada dalam satu Negara yang memungkinkan mereka bertemu dan melakukan pembayaran barang secara langsung. Tidak demikian pada perdagangan internasional. Seringkali antara penjual dan pembeli tidak bertemu secara langsung sehingga resiko yang menyertai juga relative besar. Dengan demikian penjual dan pembeli lebih suka menggunakan cara pembayaran dengan melalui perantara lembaga keungan bank dan dengan menggunakan letter of credit (L/C) atau commercial bills of exchange

d) perbedaan kebijakan yang diterapkan dalam pelaksanaan perdagangan internasional

Dalam perdangan dalam negeri kebijakan perdagangan Negara berlaku sama atas semua wilayah Negara sehingga tidak ditemukan kendala. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana masing-masing Negara memiliki kebijakan perdagangan yang mengacu pada kepentingan masing-masing Negara. Sehingga dalam praktik perdagangan kebijak perdagangan bias menjadi penghambat bagi perdagangan antar Negara.

Tabel 2.1

Perbedaan perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri

No

Perbedaan

Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan Luar Negeri

1.

2.

3.

4.

Pajak

Alat pembayaran yang digunakan

Cara pembayaran

Standar mutu barang

Tidak dikenakan pajak ekspor/impor

Menggunakan jenis uang yang sama sehingga tidak mengalami kesulitan

Bisa secara langsung, atau menggunakan jasa bank dalam negeri

Ditetapkan oleh Standar Industri Indonesia (SII)

Dikenakan pajak ekport-impor

Menggunakan jenis uang yang berbeda sehingga harus menggunakan kurs mata uang

Menggunakan jasa bank antar negara melalui letter of credit (LC)

Ditetapkan oleh Internasional Standar Organization (ISO)

b. Komoditas Ekspror Indonesia

Manfaat utama yang bisa diperoleh dari kegiatan perdagangan internasional adalah kesempatan untuk melakukan ekspor barang. Bagi ekonomi suatu negara ekspor dapat memberikan suntikan dana sebagai salah satu sumber pendapatan nasional.

Secara garis besar jenis ekspor Indonesia dibagi dalam dua kelompok, yaitu ekspor minyak bumi dan gas (migas), dan ekspor non migas. Dari kelompok migas ekspor kita terdiri dari minyak mentah, minyak olahan dan gas alam. Sedangkan dari kelompok non migas barang ekspor Indonesia terdiri dari beberapa kelompok yaitu kelompok ekspor barang-barang pertanian, kelompok ekspor barang-barang industri, dan kelompok ekspor barang-barang tambang non migas.

Tabel 3.1

NERACA PERDAGANGAN INDONESIA TOTAL

(Nilai : Juta US$)

NO

URAIAN

2001

2002

2003

2004

2005

TREND(%)
01-05

Jan-Nop 2005

Jan-Nop 2006*

PERUB.(%)
06/05

1

E K S P O R

56.320,9

57.158,8

61.058,2

71.584,6

85.660,0

11,22

77.536,4

91.192,6

17,61

2

MIGAS

12.636,3

12.112,7

13.651,4

15.645,3

19.231,6

11,58

17.406,6

19.300,3

10,88

3

NON MIGAS

43.684,6

45.046,1

47.406,8

55.939,3

66.428,4

11,12

60.129,8

71.892,3

19,56

4

I M P O R **)

30.962,1

31.288,9

32.550,7

46.524,5

57.700,9

17,84

52.811,4

56.055,1

6,14

5

MIGAS

5.471,9

6.525,7

7.610,9

11.732,0

17.457,7

33,73

16.116,4

17.585,0

9,11

6

NON MIGAS

25.490,3

24.763,1

24.939,8

34.792,5

40.243,2

13,35

36.695,0

38.470,1

4,84

7

TOTAL

87.283,0

88.447,6

93.608,9

118.109,1

143.360,8

13,67

130.347,8

147.247,7

12,97

8

MIGAS

18.108,2

18.638,4

21.262,3

27.377,4

36.689,3

19,68

33.523,0

36.885,3

10,03

9

NON MIGAS

69.174,9

69.809,2

72.346,6

90.731,8

106.671,6

11,95

96.824,8

110.362,4

13,98

10

NERACA

25.358,8

25.869,9

28.507,6

25.060,1

27.959,1

1,65

24.725,0

35.137,5

42,11

11

MIGAS

7.164,5

5.587,0

6.040,5

3.913,3

1.773,9

-27,01

1.290,2

1.715,3

32,95

12

NON MIGAS

18.194,3

20.282,9

22.467,0

21.146,8

26.185,1

8,00

23.434,8

33.422,2

42,62

Sumber

:

Badan Pusat Statistik, diolah Departemen Perdagangan

Keterangan

:

*) Angka sementara

**) Belum termasuk impor Batam dan Kawasan Berikat

Ekspor migas dapat dirinci dalam tiga jenis barang yaitu ekspor minyak mentah, produk minyak, dan Gas. Ekspor migas. Tahun 1960-an sampai tahun 1980-an sektor migas benar-benar menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia. Pada masa itu minyak menjadi tumpuan untuk mendapatkan devisa yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Masa itu biasa disebut sebagai masa booming oil, dimana pendapatan negara dari sektor migas sangat dominan.

Hal ini ditunjang oleh harga minyak di pasaran dunia yang relatif tinggi akibat krisis di Timur Tengah yang merupakan pusat pasokan minyak dunia. Namun demikian banyak ahli menjelaskan cadangan minyak bumi kita sangat terbatas sehingga dalam jangka waktu 10 tahun yang akan datang kita akan menjadi pengimpor minyak dan tidak mampu mengekspor minyak lagi

Dengan semakin menurunnya sektor migas sebagai andalam penerimaan devisa ekspor maka, sbagai gantinya negara kita berupaya untuk meningkatkan ekspor non-migas. Saat ini ekspor non-migas Indonesia sudah cukup bermacam jenis barang, misalnya, tekstil, kayu olahan, minyak nabati, barang-barang kimia, batu bara, biji tembaga, kertas, barang-barang elektronik, karet, ikan, barang-barang dari kulit, dan lain-lain.

Tabel 3.2. menunjukkan perkembangan ekspor Indonesia dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Dari tabel tersebut nampak bahwa ekspor Indonesia terus meningkat sejak tahun 2001 sampai dengan 2005.

Tabel 3.2. Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000 s/d 2005 (miliar dollar AS)

Tahun

(0)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

Total Impor

2000

3,5

0,23

4,3

15,7

1,8

3,2

12,3

10,8

9,95

0,4

62,1

2001

3,3

0,3

4,2

14,3

1,5

2,8

11,2

9,1

9,3

0,44

56,3

2002

3,6

0,3

4,5

13,9

2,7

2,97

10,9

9,8

8,2

0,3

57,2

2003

3,7

0,2

5,3

15,7

3,0

3,4

11,2

9,8

8,5

0,3

61,1

2004

3,97

0,3

6,4

18,6

4,5

4,0

12,9

11,5

9,2

0,25

71,6

2005

4,6

0,3

9,0

23,7

5,0

4,5

14,4

13,6

10,3

0,2

85,7

Keterangan :

(0) bahan makanan & binatang hidup, (1)minuman & tembakau, (2)bahan mentah, (3)bahan bakar & bahan penyemir, (4)minyak/lemak nabati dan hewani, (5)bahan kimia, (6)produk-produk industri, (7)mesin & alat pengangkutan, (8)produk-produk industri lainnya, (9)barang & transaksi lainnya.

Dengan menggunakan penggolongan seperti dalam Tabel Tabel 3.2, nampak bahwa grafik eksport kita cenderung terus meningkat. Pada tahun 2001 nilai ekspor Indonesia sebesar 56,3 miliar dollar Amerika Serikat, kemudian meningkat menjadi 85,7 milliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2005

Dari tabel ekspor itu juga, kita dapat melihat bahwa jenis barang ekspor kita yang terbesar adalah kelompok bahan bakar atau migas dan terbesar keduanya adalah produk-produk industri. Produk-produk industri yang banyak kita hasilkan adalah elektronika dan tekstil. Industri elektronik dan industri tekstil adalah industri yang sangat tergantung pada bahan baku impor. Sebagian besar kapas dan komponen elektronik adalah barang impor, maka kedua komoditi ini sangat rentan terhadap pengaruh kondisi ekonomi internasional. Di samping itu kemajuan dalam industri ini tidak akan banyak mempengaruhi sektor agraris karena input berasal dari luar negeri.

Untuk terus meningkatkan kegiatan ekspor sebagai sumber devisa, perlu ditempuh kebijakan-kebijakan seperti di bawah ini:

1. Penganekaragaman barang ekspor

Penganekaragaman barang ekspor terutama non-migas perlu diupayakan dengan memproduksi barang-barang baru yang laku di pasarkan di pasar internasional.

2. Pengendalian harga dalam negeri

Agar harga barang tetap mampu bersaing di pasar internasional dibutuhkan harga yang stabil. Untuk mencapai stabilitas yang mantap dibutuhkan pengendalian harga atau pengendalian inflasi. Inflasi dapat menyebabkan harga-harga bertambah mahal.

3. Pengendalian nilai tukar Rupiah

Karena kegiatan ekspor dan impor menggunakan mata uang internasional, maka dibutuhkan nilai tukar yang stabil sehingga menimbulkan kepastian usaha. Maka nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing perlu distabilkan. Penstabilan nilai tukar merupakan tanggung jawab dari Bank Indonesia.

4. Promosi ekspor

Promosi ekspor dalam bentuk pameran-pameran dagang sangat dibutuhkan untukmemperkenalkan produk-produk baru.

B. Alat Pembayaran Internasional

Perbedaan mata uang antara satu negara dengan negara lain dapat menyebabkan terhambatnya perdagangan antar negara. Oleh karena itu, untuk memperlancar aktivitas perdagangan internasional, negara-negara pelaku perdagangan internasional menggunakan devisa sebagai alat pembayaran.

1. Pengertian Devisa

Devisa diartikan sebagai alat pembayaran luar negeri atau antar negara. Dalam praktik perdagangan internasional dikenal empat jenis devisa yang biasa digunakan sebagai alat pembayaran, yaitu: valuta asing, emas, wesel asing, dan surat-surat berharga.

Devisa dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu:

a) Devisa umum

Devisa umum adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari kegiatan ekspor, penyelenggaraan jasa luar negeri, wesel asing, dan lain-lain.

b) Devisa kredit

Devisa kredit adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari pinjaman luar negeri. Wesel kredit mensyaratkan kewajiban negara tersebut untuk mengembalikan pada negara pembeli pinjaman berdasarkan syarat dan jangka waktu tertentu.

2. Sumber-Sumber Devisa

Perdagangan internasional memerlukan devisa sebagai alat pembayarannya. Oleh karena itu setiap negara yang terlibat dalam perdagangan internasional berusaha memperoleh devisa sebaganyak-banyaknya untuk sewaktu-waktu digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang diperlukan. Sumber-sumber devisa yang umumnya dimiliki oleh suatu negara adalah:

a. Ekspor barang ke luar negeri

Kegiatan ekspor barang ke luar negeri akan menghasilkan pemasukan berupa devisa umum dari negara importir (pembeli). Semakin besar nilai barang yang dapat di ekspor ke luar negeri semakin besar juga devisa yang bisa diperoleh oleh negara tersebut.

b. Penyediaan jasa bagi luar negeri

Kegiatan penyediaan jasa bagi masyarakat luar negeri seperti menyediakan bandara udara dan pelabuhan internasional, akan membuat negara tersebut memperoleh devisa dari masyarakat luar negeri yang berkunjung dan menggunakan jasa-jasa bandar udara atau pelabuhan internasional.

c. Pariwisata

Pariwisata merupakan sumber devisa yang sangat potensial. Dengan melihat angka kunjungan wisatawan manca negara ke Pulau Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta dan lain-lain, maka sektor pariwisata bisa diharapkan dapat menyumbang perolehan devisa yang cukup tinggi bagi penerimaan negara. Namun demikian faktor keamanan dan kenyamanan tinggal harus selalu diutamakan, mengingat jasa pariwisata tidak bisa lepas dari faktor keamanan dan kenyamanan.

d. Hibah luar negeri

Hibah atau hadiah dari negara donatur merupakan bentuk bantuan yang tidak mengikat atau tidak perlu dikembalikan. Hibah devisa dari negara lain bisa diperoleh apabila negara pemberi hibah merasa diuntungkan oleh negara yang memperoleh hibah. Hibah dapat berupa pembebasan atau pengurangan hutang luar negeri.

e. Pinjaman asing

Pinjaman luar negeri termasuk dalam kategori devisa kredit, karena negara yang memperoleh devisa jenis ini wajib mengembalikan dalam jangka waktu tertentu. Pinjaman asing seharusnya diposisikan sebagai pelengkap dari dana yang digunakan bagi kepentingan pembangunan di Indonesia.

3. Penggunaan Devisa

Devisa yang diperoleh oleh negara umumnya terutama digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang dibutuhkan di dalam negeri namun belum bisa diproduksi sendiri. Di samping itu penggunaan devisa antara lain sebagai berikut:

a) membiaya kedutaan dan konsulat di luar negeri,

b) membiayai perjalanan dinas dan kunjungan pejabat ke luar negeri,

c) membiayai misi kebudayaan dan olah raga ke luar negeri,

d) membiayai pengiriman pemuda-pemudi yang tugas belajar di luar negeri,

e) memperoleh jasa dari luar negeri.

C. Dampak Perdagangan Bebas terhadap Perekonomian Indonesia

Perdagangan bebas antar negara saat ini telah mulai dilaksanakan. Sebagai contoh Asean Free Trade Area (AFTA) sebagai kesepakatan dimulainya kawasan perdagangan bebas di antara negara-negara ASEA seperti Indonesia, Malayasia, Thailan, Filiphina dan lain-lain telah dimulai pada tanggal 1 Januari 2003.

Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangai kesepakatan tersebut tidak lepas dari pengaruh kebiajakan-kebijakan perdagangan tersebut. Maka apabila saat ini banyak kita temukan barang-barang produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, hal ini terjadi karena Indonesia harus mematuhi kebijakan perdagangan bebas yang mulai berlaku. Dampak perdagangan bebas bagi perekonomian Indonesia dapat dikelompokan menjadi:

a. Dampak Positif Ekspor

Dampak positif ekspor yang cukup penting diantaranya adalah :

1) Memperluas pasar

Aktivitas ekspor memungkinkan terjadinya perluasan pasar dari pasar domestik ke pasar global.

2) Memperluas lapangan pekerjaan

Bertambahnya pasar sebagai akibat dari kegiatan ekpor menyebabkan suatu industri memperluas usaha yang memungkinkan terserapnya tenaga kerja dalam industri tersebut.

3) Meningkatkan cadangan devisa

Meningkatnya aktivitas ekspor akan menyebabkan arus devisa dari luar negeri masuk ke dalam negera kita yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan impor Indonesia.

b. Dampak Negatif Ekspor

1) Menimbulkan kelangkaan barang di dalam negeri

Tanpa pengaturan yang baik, ekspor bisa menimbulkan kelangakan barang di dalam negeri. Misalnya, kalau minyak sawit mentah diperdagangkan secara bebas ke luar negari maka pasokan minyak sawit (CPO) mentah akan menjadi kurang di dalam negeri. Hal ini terjadi karena harga pasar internasional untuk CPO jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar di dalam negeri.

2) Menyebabkan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam

Dengan adanya ekspor akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang kita miliki. Misalnya ekspor barang-barang tambang telah menyebabkan semakin tipisnya cadangan bahan tambang dan menimbulkan kerusakan alam.

c. Dampak Positif Impor

1) Meningkatkan kesejahteraan konsumen

Dengan adanya impor barang-barang konsumsi, masyarakat Indonesia biasa menggunakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. Sebagai contoh, kita bisa mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang berasal dari tepung terigu padahal negara kita tidak mampu menghasilkan tepung terigu.

2) Meningkatkan industri dalam negeri

Dengan adanya impor, kita mendapatkan kesempatan untuk mengimpor barang-barang modal baik yang berupa mesin-mesin industri maupun bahan baku yang memungkinkan kita untuk mengembangkan suatu industri. Misalnya, industri tekstil Indonesia sangat tergantung pada impor kapas dari luar negeri.

3) Alih teknologi

Dengan adanya impor memungkinkan terjadinya alih teknologi. Secara bertahap negara kita mencoba mengembangkan teknologi moderen untuk mengurangi ketertinggalan kita dengan bangsa-bangsa yang sudah maju. Misalnya, secara bertahap kita mampu mengembangkan rancang bangun di bidang permesinan.

d. Dampak negatif impor

1) Menciptakan pesaing bagi industri dalam negeri

Pada pembahasan diawal kita melihat bahwa dengan adanya impor kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan industri dalam negeri melalui impor barang-barang modal. Namun demikian yang terjadi bisa sebaliknya, industri kita tidak berkembang karena menghadapi pesaing-pesaing dari luar negeri.

2) Menciptakan pengangguran

Dengan mengimpor barang-barang dari luar negeri berarti kita kehilangan kesempatan untuk menghasilkan sendiri barang-barang tersebut, yang sama artinya kita telah kehilangan kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan yang tercipta dari proses memproduksi barang tersebut.

4) Konsumerisme

Konsumsi berlebihan terutama untuk barang-barang mewah merupakan salah satu dampak yang dapat diciptakan dari adanya impor. Pakaian impor mewah, mobil-mobil mewah, alat-alat rumah tangga mewah adalah contoh-contoh konsumerisme yang muncul dalam masyarakat kita.

A. Perdagangan Internasional

Pada era kesejagatan seperti saat ini, hampir bisa dikatakan tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak menjalin hubungan dengan negara lain. Hubungvan antarnegara umumnya dilakukan oleh Negara-negara di dunia ini dengan cara mendirikan perwakilan Negara tersebut di Negara lain seperti kedutaan besar, konsulat jenderal atau perwakilan setingklat atase. Dalam bidang ekonomi, hubungan dengan negara lain diwujudkan dalam bentuk saling mengadakan kegiatan perdagangan atau yang dikenal sebagai perdagangan internasional.

Perdagangan internasional memberikan keuntungan bagi negara-negara pelakunya, karena negara dapat menjual barang-barangnya ke luar negeri yang dapat meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan penduduknya.

1. Pengertian Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah hubungan perdagangan barang dan jasa antar dua negara atau lebih. Batasan lain tentang perdagangan internasional adalah proses tukar-menukar barang dan jasa kebutuhan antara dua negara atau lebih yang berbeda hukum dan kedaulatan dengan memenuhi peraturan yang diterima secara internasional.

2. Faktor-faktor yang mendorong perdagangan internasional

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya perdagangan internasional adalah sebagai berikut.

a. Perbedaan sumber daya alam

Perbedaan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara akan berpengaruh pada ketersediaan barang-barang kebutuhan yang dapat disediakan oleh Negara tersebut. Kondisi ini menyebabkan suatu negara tidak mempunyai ketersediaan sumber daya alam mendatang barang atau sumber-sumber daya produksi yang dibutuhkannya dari Negara lain. Misalnya Jepang membutuhkan migas untuk sumber energi industrinya, namun Negara tersebut tidak memiliki sumber daya alam migas, sehingga akan mengimpor dari Indonesia. Demikian juga Indonesia, membutuhkan

b. Kondisi saling membutuhkan

Pada dasar tidak ada satupun negara yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup rakyatnya secara mandiri. Oleh karena itu secara sadar setiap negara akan membuka hubungan perdagangan dengan negara lain untuk memperoleh barang-barang kebutuhan yang tidak dapat diproduksi di negara tersebut.

c. Perbedaan kapasitas produksi

Kapasitas atau kemampuan produksi barang setiap negara berbeda-beda. Apabila kapasitas produksi barang negara tersebut tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan maka akan mendorong negara tersebut mendatangkannya dari negara lain. Demikian juga apabila kapasitas produksi barang disuatu negara berlebih (surplus) akan mendorong negara tersebut mencar pasar ke negara lain.

d. Efisiensi biaya

Efisiensi biaya produksi juga menjadi pertimbangan suatu negara melakukan kegiatan perdagangan dengan negara lain. Suatu barang yang dibutuhkan mungkin bisa diproduksi di dalam negeri. Tetapi apabila biaya produksi yang dikeluarkan lebih tinggi dari harga jual barang sejenis yang diproduksi negar lain, maka lebih baik suatu negara mendatangkan barang tersebut dari negara lain.

3. Manfaat Perdagangan Internasional

Manfaat perdagangan internasional bagi suatu negara, antara lain:

a. Memenuhi kebutuhan suatu barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri

b. Menerima devisa dari bea impor dan ekspor barang

c. Terjadi alih tekhnologi yang saling menguntungkan

d. Memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi dalam negeri

e. Mempercepat pertumbuhan ekonomi

f. Mempererat hubungan persahabatan antar negara

4. Hambatan dalam Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara tidak lepas dari kemungkinan adanya faktor-faktor penghambat. Hambatan-hambatan perdagangan internasional antara lain sebagai berikut:

a. Kebijakan proteksi

Kebijakan proteksi adalah tindakan pemerintah yang membatasi masuknya barang impor ke dalam negeri. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi (protection) industri dalam negeri dari kemungkinan bangkrut sebagai akibat serbuan pasar barang sejenis dari luar negeri.

b. Penetapan Tarif impor

Penetapan tarif impor adalah pembebanan bea masuk (import duties) terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara. Jenis-jenisnya ialah bea ad valorem (bea harga), bea specific, dan bea compound (bea specific ad valorem). Tarif impor akan dibebankan pada harga jual barang atau jasa yang akan dibeli konsumen, sehingga menyebabkan harga barang atau jasa bertambah tinggi.

c. Penetapan Kuota

Kouta adalah pembatasan jumlah barang impor yang masuk ke dalam negeri. Penetapan kuota akan berpengaruh terhadap terbatasnya jumlah barang atau jasa di pasar negara tersebut.

d. Politik Dumping

Politik dumping adalah pemberlakuan harga jual lebih murah di pasar negara importir dibanding harga di negara ekspotir. Tujuan penerapan poltik dumping adalah untuk meningkatkan jumlah ekspor barang ke negara lain.

e. Pemberian Subsidi

Subsidi adalah pemberian dana atau fasilitas dari pemerintah kepada produsen dalam negeri. Tujuan subsidi berupa dana atau fasilitas kepada produsen dalam negeri adalah untuk meningkatkan kapasitas ekspor.

a. Perbedaan Perdagangan Dalam Negeri dengan Perdagangan Internasional

1. Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan dalam negeri atau sering disebut perdagangan domestik meliputi ruang lingkup atau batasan wilayah suatu negara. Perdagangan dalam negeri bisa berupa perdagangan antar desa, perdagangan antar kota, perdagangan antar provinsi, dan perdagangan antarpulau. Sedangkan perdagangan luar negeri atau sering disebut perdagangan internasional meliputi kegiatan ekspor dan impor barang dan jasa antar negara. Misalnya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh negara kita dengan negara Malaysia, Jepang dan AS.

Perdagangan internasional berbeda dengan perdagangan dalam negeri, karena:

a) perdagangan internasional membutuhkan jenis mata uang yang berbeda-beda.

Apabila dalam perdagangan dalam negeri antara penjual dan pembeli menggunakan satu mata uang yang sama, tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana penjual dan pembeli menggunakan mata uang yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan kesepakatan akan penggunaan mata uang tertentu seperti mata uang dollar Amerika (US $) sebagai mata uang standar internasional sebagai alat pembayarannya.

b) Tata cara transaksi dalam perdagangan internasional memakan waktu relative lebih lama dibandingkan perdagangan dalam negeri.

Dalam perdagangan dalam negeri tata cara transaksi umumnya berlangsung singkat dan sederhana. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional. Tata cara transaksi yang terdiri dari kesepakatan harga, pembayaran, dan penyerahan barang memakan waktu yang relative lama karena jarak antara satu Negara dengan Negara lain yang berjauhan dan prosedur ekspor impor yang rumit.

c) Cara pembayaran dalam perdagangan internasional relative lebih rumit dan beresiko tinggi

Pada perdagangan dalam negeri pembeli dan penjual berada dalam satu Negara yang memungkinkan mereka bertemu dan melakukan pembayaran barang secara langsung. Tidak demikian pada perdagangan internasional. Seringkali antara penjual dan pembeli tidak bertemu secara langsung sehingga resiko yang menyertai juga relative besar. Dengan demikian penjual dan pembeli lebih suka menggunakan cara pembayaran dengan melalui perantara lembaga keungan bank dan dengan menggunakan letter of credit (L/C) atau commercial bills of exchange

d) perbedaan kebijakan yang diterapkan dalam pelaksanaan perdagangan internasional

Dalam perdangan dalam negeri kebijakan perdagangan Negara berlaku sama atas semua wilayah Negara sehingga tidak ditemukan kendala. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana masing-masing Negara memiliki kebijakan perdagangan yang mengacu pada kepentingan masing-masing Negara. Sehingga dalam praktik perdagangan kebijak perdagangan bias menjadi penghambat bagi perdagangan antar Negara.

Tabel 2.1

Perbedaan perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri

No

Perbedaan

Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan Luar Negeri

1.

2.

3.

4.

Pajak

Alat pembayaran yang digunakan

Cara pembayaran

Standar mutu barang

Tidak dikenakan pajak ekspor/impor

Menggunakan jenis uang yang sama sehingga tidak mengalami kesulitan

Bisa secara langsung, atau menggunakan jasa bank dalam negeri

Ditetapkan oleh Standar Industri Indonesia (SII)

Dikenakan pajak ekport-impor

Menggunakan jenis uang yang berbeda sehingga harus menggunakan kurs mata uang

Menggunakan jasa bank antar negara melalui letter of credit (LC)

Ditetapkan oleh Internasional Standar Organization (ISO)

b. Komoditas Ekspror Indonesia

Manfaat utama yang bisa diperoleh dari kegiatan perdagangan internasional adalah kesempatan untuk melakukan ekspor barang. Bagi ekonomi suatu negara ekspor dapat memberikan suntikan dana sebagai salah satu sumber pendapatan nasional.

Secara garis besar jenis ekspor Indonesia dibagi dalam dua kelompok, yaitu ekspor minyak bumi dan gas (migas), dan ekspor non migas. Dari kelompok migas ekspor kita terdiri dari minyak mentah, minyak olahan dan gas alam. Sedangkan dari kelompok non migas barang ekspor Indonesia terdiri dari beberapa kelompok yaitu kelompok ekspor barang-barang pertanian, kelompok ekspor barang-barang industri, dan kelompok ekspor barang-barang tambang non migas.

Tabel 3.1

NERACA PERDAGANGAN INDONESIA TOTAL

(Nilai : Juta US$)

NO

URAIAN

2001

2002

2003

2004

2005

TREND(%)
01-05

Jan-Nop 2005

Jan-Nop 2006*

PERUB.(%)
06/05

1

E K S P O R

56.320,9

57.158,8

61.058,2

71.584,6

85.660,0

11,22

77.536,4

91.192,6

17,61

2

MIGAS

12.636,3

12.112,7

13.651,4

15.645,3

19.231,6

11,58

17.406,6

19.300,3

10,88

3

NON MIGAS

43.684,6

45.046,1

47.406,8

55.939,3

66.428,4

11,12

60.129,8

71.892,3

19,56

4

I M P O R **)

30.962,1

31.288,9

32.550,7

46.524,5

57.700,9

17,84

52.811,4

56.055,1

6,14

5

MIGAS

5.471,9

6.525,7

7.610,9

11.732,0

17.457,7

33,73

16.116,4

17.585,0

9,11

6

NON MIGAS

25.490,3

24.763,1

24.939,8

34.792,5

40.243,2

13,35

36.695,0

38.470,1

4,84

7

TOTAL

87.283,0

88.447,6

93.608,9

118.109,1

143.360,8

13,67

130.347,8

147.247,7

12,97

8

MIGAS

18.108,2

18.638,4

21.262,3

27.377,4

36.689,3

19,68

33.523,0

36.885,3

10,03

9

NON MIGAS

69.174,9

69.809,2

72.346,6

90.731,8

106.671,6

11,95

96.824,8

110.362,4

13,98

10

NERACA

25.358,8

25.869,9

28.507,6

25.060,1

27.959,1

1,65

24.725,0

35.137,5

42,11

11

MIGAS

7.164,5

5.587,0

6.040,5

3.913,3

1.773,9

-27,01

1.290,2

1.715,3

32,95

12

NON MIGAS

18.194,3

20.282,9

22.467,0

21.146,8

26.185,1

8,00

23.434,8

33.422,2

42,62

Sumber

:

Badan Pusat Statistik, diolah Departemen Perdagangan

Keterangan

:

*) Angka sementara

**) Belum termasuk impor Batam dan Kawasan Berikat

Ekspor migas dapat dirinci dalam tiga jenis barang yaitu ekspor minyak mentah, produk minyak, dan Gas. Ekspor migas. Tahun 1960-an sampai tahun 1980-an sektor migas benar-benar menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia. Pada masa itu minyak menjadi tumpuan untuk mendapatkan devisa yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Masa itu biasa disebut sebagai masa booming oil, dimana pendapatan negara dari sektor migas sangat dominan.

Hal ini ditunjang oleh harga minyak di pasaran dunia yang relatif tinggi akibat krisis di Timur Tengah yang merupakan pusat pasokan minyak dunia. Namun demikian banyak ahli menjelaskan cadangan minyak bumi kita sangat terbatas sehingga dalam jangka waktu 10 tahun yang akan datang kita akan menjadi pengimpor minyak dan tidak mampu mengekspor minyak lagi

Dengan semakin menurunnya sektor migas sebagai andalam penerimaan devisa ekspor maka, sbagai gantinya negara kita berupaya untuk meningkatkan ekspor non-migas. Saat ini ekspor non-migas Indonesia sudah cukup bermacam jenis barang, misalnya, tekstil, kayu olahan, minyak nabati, barang-barang kimia, batu bara, biji tembaga, kertas, barang-barang elektronik, karet, ikan, barang-barang dari kulit, dan lain-lain.

Tabel 3.2. menunjukkan perkembangan ekspor Indonesia dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Dari tabel tersebut nampak bahwa ekspor Indonesia terus meningkat sejak tahun 2001 sampai dengan 2005.

Tabel 3.2. Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000 s/d 2005 (miliar dollar AS)

Tahun

(0)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

Total Impor

2000

3,5

0,23

4,3

15,7

1,8

3,2

12,3

10,8

9,95

0,4

62,1

2001

3,3

0,3

4,2

14,3

1,5

2,8

11,2

9,1

9,3

0,44

56,3

2002

3,6

0,3

4,5

13,9

2,7

2,97

10,9

9,8

8,2

0,3

57,2

2003

3,7

0,2

5,3

15,7

3,0

3,4

11,2

9,8

8,5

0,3

61,1

2004

3,97

0,3

6,4

18,6

4,5

4,0

12,9

11,5

9,2

0,25

71,6

2005

4,6

0,3

9,0

23,7

5,0

4,5

14,4

13,6

10,3

0,2

85,7

Keterangan :

(0) bahan makanan & binatang hidup, (1)minuman & tembakau, (2)bahan mentah, (3)bahan bakar & bahan penyemir, (4)minyak/lemak nabati dan hewani, (5)bahan kimia, (6)produk-produk industri, (7)mesin & alat pengangkutan, (8)produk-produk industri lainnya, (9)barang & transaksi lainnya.

Dengan menggunakan penggolongan seperti dalam Tabel Tabel 3.2, nampak bahwa grafik eksport kita cenderung terus meningkat. Pada tahun 2001 nilai ekspor Indonesia sebesar 56,3 miliar dollar Amerika Serikat, kemudian meningkat menjadi 85,7 milliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2005

Dari tabel ekspor itu juga, kita dapat melihat bahwa jenis barang ekspor kita yang terbesar adalah kelompok bahan bakar atau migas dan terbesar keduanya adalah produk-produk industri. Produk-produk industri yang banyak kita hasilkan adalah elektronika dan tekstil. Industri elektronik dan industri tekstil adalah industri yang sangat tergantung pada bahan baku impor. Sebagian besar kapas dan komponen elektronik adalah barang impor, maka kedua komoditi ini sangat rentan terhadap pengaruh kondisi ekonomi internasional. Di samping itu kemajuan dalam industri ini tidak akan banyak mempengaruhi sektor agraris karena input berasal dari luar negeri.

Untuk terus meningkatkan kegiatan ekspor sebagai sumber devisa, perlu ditempuh kebijakan-kebijakan seperti di bawah ini:

1. Penganekaragaman barang ekspor

Penganekaragaman barang ekspor terutama non-migas perlu diupayakan dengan memproduksi barang-barang baru yang laku di pasarkan di pasar internasional.

2. Pengendalian harga dalam negeri

Agar harga barang tetap mampu bersaing di pasar internasional dibutuhkan harga yang stabil. Untuk mencapai stabilitas yang mantap dibutuhkan pengendalian harga atau pengendalian inflasi. Inflasi dapat menyebabkan harga-harga bertambah mahal.

3. Pengendalian nilai tukar Rupiah

Karena kegiatan ekspor dan impor menggunakan mata uang internasional, maka dibutuhkan nilai tukar yang stabil sehingga menimbulkan kepastian usaha. Maka nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing perlu distabilkan. Penstabilan nilai tukar merupakan tanggung jawab dari Bank Indonesia.

4. Promosi ekspor

Promosi ekspor dalam bentuk pameran-pameran dagang sangat dibutuhkan untukmemperkenalkan produk-produk baru.

B. Alat Pembayaran Internasional

Perbedaan mata uang antara satu negara dengan negara lain dapat menyebabkan terhambatnya perdagangan antar negara. Oleh karena itu, untuk memperlancar aktivitas perdagangan internasional, negara-negara pelaku perdagangan internasional menggunakan devisa sebagai alat pembayaran.

1. Pengertian Devisa

Devisa diartikan sebagai alat pembayaran luar negeri atau antar negara. Dalam praktik perdagangan internasional dikenal empat jenis devisa yang biasa digunakan sebagai alat pembayaran, yaitu: valuta asing, emas, wesel asing, dan surat-surat berharga.

Devisa dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu:

a) Devisa umum

Devisa umum adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari kegiatan ekspor, penyelenggaraan jasa luar negeri, wesel asing, dan lain-lain.

b) Devisa kredit

Devisa kredit adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari pinjaman luar negeri. Wesel kredit mensyaratkan kewajiban negara tersebut untuk mengembalikan pada negara pembeli pinjaman berdasarkan syarat dan jangka waktu tertentu.

2. Sumber-Sumber Devisa

Perdagangan internasional memerlukan devisa sebagai alat pembayarannya. Oleh karena itu setiap negara yang terlibat dalam perdagangan internasional berusaha memperoleh devisa sebaganyak-banyaknya untuk sewaktu-waktu digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang diperlukan. Sumber-sumber devisa yang umumnya dimiliki oleh suatu negara adalah:

a. Ekspor barang ke luar negeri

Kegiatan ekspor barang ke luar negeri akan menghasilkan pemasukan berupa devisa umum dari negara importir (pembeli). Semakin besar nilai barang yang dapat di ekspor ke luar negeri semakin besar juga devisa yang bisa diperoleh oleh negara tersebut.

b. Penyediaan jasa bagi luar negeri

Kegiatan penyediaan jasa bagi masyarakat luar negeri seperti menyediakan bandara udara dan pelabuhan internasional, akan membuat negara tersebut memperoleh devisa dari masyarakat luar negeri yang berkunjung dan menggunakan jasa-jasa bandar udara atau pelabuhan internasional.

c. Pariwisata

Pariwisata merupakan sumber devisa yang sangat potensial. Dengan melihat angka kunjungan wisatawan manca negara ke Pulau Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta dan lain-lain, maka sektor pariwisata bisa diharapkan dapat menyumbang perolehan devisa yang cukup tinggi bagi penerimaan negara. Namun demikian faktor keamanan dan kenyamanan tinggal harus selalu diutamakan, mengingat jasa pariwisata tidak bisa lepas dari faktor keamanan dan kenyamanan.

d. Hibah luar negeri

Hibah atau hadiah dari negara donatur merupakan bentuk bantuan yang tidak mengikat atau tidak perlu dikembalikan. Hibah devisa dari negara lain bisa diperoleh apabila negara pemberi hibah merasa diuntungkan oleh negara yang memperoleh hibah. Hibah dapat berupa pembebasan atau pengurangan hutang luar negeri.

e. Pinjaman asing

Pinjaman luar negeri termasuk dalam kategori devisa kredit, karena negara yang memperoleh devisa jenis ini wajib mengembalikan dalam jangka waktu tertentu. Pinjaman asing seharusnya diposisikan sebagai pelengkap dari dana yang digunakan bagi kepentingan pembangunan di Indonesia.

3. Penggunaan Devisa

Devisa yang diperoleh oleh negara umumnya terutama digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang dibutuhkan di dalam negeri namun belum bisa diproduksi sendiri. Di samping itu penggunaan devisa antara lain sebagai berikut:

a) membiaya kedutaan dan konsulat di luar negeri,

b) membiayai perjalanan dinas dan kunjungan pejabat ke luar negeri,

c) membiayai misi kebudayaan dan olah raga ke luar negeri,

d) membiayai pengiriman pemuda-pemudi yang tugas belajar di luar negeri,

e) memperoleh jasa dari luar negeri.

C. Dampak Perdagangan Bebas terhadap Perekonomian Indonesia

Perdagangan bebas antar negara saat ini telah mulai dilaksanakan. Sebagai contoh Asean Free Trade Area (AFTA) sebagai kesepakatan dimulainya kawasan perdagangan bebas di antara negara-negara ASEA seperti Indonesia, Malayasia, Thailan, Filiphina dan lain-lain telah dimulai pada tanggal 1 Januari 2003.

Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangai kesepakatan tersebut tidak lepas dari pengaruh kebiajakan-kebijakan perdagangan tersebut. Maka apabila saat ini banyak kita temukan barang-barang produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, hal ini terjadi karena Indonesia harus mematuhi kebijakan perdagangan bebas yang mulai berlaku. Dampak perdagangan bebas bagi perekonomian Indonesia dapat dikelompokan menjadi:

a. Dampak Positif Ekspor

Dampak positif ekspor yang cukup penting diantaranya adalah :

1) Memperluas pasar

Aktivitas ekspor memungkinkan terjadinya perluasan pasar dari pasar domestik ke pasar global.

2) Memperluas lapangan pekerjaan

Bertambahnya pasar sebagai akibat dari kegiatan ekpor menyebabkan suatu industri memperluas usaha yang memungkinkan terserapnya tenaga kerja dalam industri tersebut.

3) Meningkatkan cadangan devisa

Meningkatnya aktivitas ekspor akan menyebabkan arus devisa dari luar negeri masuk ke dalam negera kita yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan impor Indonesia.

b. Dampak Negatif Ekspor

1) Menimbulkan kelangkaan barang di dalam negeri

Tanpa pengaturan yang baik, ekspor bisa menimbulkan kelangakan barang di dalam negeri. Misalnya, kalau minyak sawit mentah diperdagangkan secara bebas ke luar negari maka pasokan minyak sawit (CPO) mentah akan menjadi kurang di dalam negeri. Hal ini terjadi karena harga pasar internasional untuk CPO jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar di dalam negeri.

2) Menyebabkan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam

Dengan adanya ekspor akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang kita miliki. Misalnya ekspor barang-barang tambang telah menyebabkan semakin tipisnya cadangan bahan tambang dan menimbulkan kerusakan alam.

c. Dampak Positif Impor

1) Meningkatkan kesejahteraan konsumen

Dengan adanya impor barang-barang konsumsi, masyarakat Indonesia biasa menggunakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. Sebagai contoh, kita bisa mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang berasal dari tepung terigu padahal negara kita tidak mampu menghasilkan tepung terigu.

2) Meningkatkan industri dalam negeri

Dengan adanya impor, kita mendapatkan kesempatan untuk mengimpor barang-barang modal baik yang berupa mesin-mesin industri maupun bahan baku yang memungkinkan kita untuk mengembangkan suatu industri. Misalnya, industri tekstil Indonesia sangat tergantung pada impor kapas dari luar negeri.

3) Alih teknologi

Dengan adanya impor memungkinkan terjadinya alih teknologi. Secara bertahap negara kita mencoba mengembangkan teknologi moderen untuk mengurangi ketertinggalan kita dengan bangsa-bangsa yang sudah maju. Misalnya, secara bertahap kita mampu mengembangkan rancang bangun di bidang permesinan.

d. Dampak negatif impor

1) Menciptakan pesaing bagi industri dalam negeri

Pada pembahasan diawal kita melihat bahwa dengan adanya impor kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan industri dalam negeri melalui impor barang-barang modal. Namun demikian yang terjadi bisa sebaliknya, industri kita tidak berkembang karena menghadapi pesaing-pesaing dari luar negeri.

2) Menciptakan pengangguran

Dengan mengimpor barang-barang dari luar negeri berarti kita kehilangan kesempatan untuk menghasilkan sendiri barang-barang tersebut, yang sama artinya kita telah kehilangan kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan yang tercipta dari proses memproduksi barang tersebut.

4) Konsumerisme

Konsumsi berlebihan terutama untuk barang-barang mewah merupakan salah satu dampak yang dapat diciptakan dari adanya impor. Pakaian impor mewah, mobil-mobil mewah, alat-alat rumah tangga mewah adalah contoh-contoh konsumerisme yang muncul dalam masyarakat kita.

A. Perdagangan Internasional

Pada era kesejagatan seperti saat ini, hampir bisa dikatakan tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak menjalin hubungan dengan negara lain. Hubungvan antarnegara umumnya dilakukan oleh Negara-negara di dunia ini dengan cara mendirikan perwakilan Negara tersebut di Negara lain seperti kedutaan besar, konsulat jenderal atau perwakilan setingklat atase. Dalam bidang ekonomi, hubungan dengan negara lain diwujudkan dalam bentuk saling mengadakan kegiatan perdagangan atau yang dikenal sebagai perdagangan internasional.

Perdagangan internasional memberikan keuntungan bagi negara-negara pelakunya, karena negara dapat menjual barang-barangnya ke luar negeri yang dapat meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan penduduknya.

1. Pengertian Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah hubungan perdagangan barang dan jasa antar dua negara atau lebih. Batasan lain tentang perdagangan internasional adalah proses tukar-menukar barang dan jasa kebutuhan antara dua negara atau lebih yang berbeda hukum dan kedaulatan dengan memenuhi peraturan yang diterima secara internasional.

2. Faktor-faktor yang mendorong perdagangan internasional

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya perdagangan internasional adalah sebagai berikut.

a. Perbedaan sumber daya alam

Perbedaan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara akan berpengaruh pada ketersediaan barang-barang kebutuhan yang dapat disediakan oleh Negara tersebut. Kondisi ini menyebabkan suatu negara tidak mempunyai ketersediaan sumber daya alam mendatang barang atau sumber-sumber daya produksi yang dibutuhkannya dari Negara lain. Misalnya Jepang membutuhkan migas untuk sumber energi industrinya, namun Negara tersebut tidak memiliki sumber daya alam migas, sehingga akan mengimpor dari Indonesia. Demikian juga Indonesia, membutuhkan

b. Kondisi saling membutuhkan

Pada dasar tidak ada satupun negara yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup rakyatnya secara mandiri. Oleh karena itu secara sadar setiap negara akan membuka hubungan perdagangan dengan negara lain untuk memperoleh barang-barang kebutuhan yang tidak dapat diproduksi di negara tersebut.

c. Perbedaan kapasitas produksi

Kapasitas atau kemampuan produksi barang setiap negara berbeda-beda. Apabila kapasitas produksi barang negara tersebut tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan maka akan mendorong negara tersebut mendatangkannya dari negara lain. Demikian juga apabila kapasitas produksi barang disuatu negara berlebih (surplus) akan mendorong negara tersebut mencar pasar ke negara lain.

d. Efisiensi biaya

Efisiensi biaya produksi juga menjadi pertimbangan suatu negara melakukan kegiatan perdagangan dengan negara lain. Suatu barang yang dibutuhkan mungkin bisa diproduksi di dalam negeri. Tetapi apabila biaya produksi yang dikeluarkan lebih tinggi dari harga jual barang sejenis yang diproduksi negar lain, maka lebih baik suatu negara mendatangkan barang tersebut dari negara lain.

3. Manfaat Perdagangan Internasional

Manfaat perdagangan internasional bagi suatu negara, antara lain:

a. Memenuhi kebutuhan suatu barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri

b. Menerima devisa dari bea impor dan ekspor barang

c. Terjadi alih tekhnologi yang saling menguntungkan

d. Memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi dalam negeri

e. Mempercepat pertumbuhan ekonomi

f. Mempererat hubungan persahabatan antar negara

4. Hambatan dalam Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara tidak lepas dari kemungkinan adanya faktor-faktor penghambat. Hambatan-hambatan perdagangan internasional antara lain sebagai berikut:

a. Kebijakan proteksi

Kebijakan proteksi adalah tindakan pemerintah yang membatasi masuknya barang impor ke dalam negeri. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi (protection) industri dalam negeri dari kemungkinan bangkrut sebagai akibat serbuan pasar barang sejenis dari luar negeri.

b. Penetapan Tarif impor

Penetapan tarif impor adalah pembebanan bea masuk (import duties) terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara. Jenis-jenisnya ialah bea ad valorem (bea harga), bea specific, dan bea compound (bea specific ad valorem). Tarif impor akan dibebankan pada harga jual barang atau jasa yang akan dibeli konsumen, sehingga menyebabkan harga barang atau jasa bertambah tinggi.

c. Penetapan Kuota

Kouta adalah pembatasan jumlah barang impor yang masuk ke dalam negeri. Penetapan kuota akan berpengaruh terhadap terbatasnya jumlah barang atau jasa di pasar negara tersebut.

d. Politik Dumping

Politik dumping adalah pemberlakuan harga jual lebih murah di pasar negara importir dibanding harga di negara ekspotir. Tujuan penerapan poltik dumping adalah untuk meningkatkan jumlah ekspor barang ke negara lain.

e. Pemberian Subsidi

Subsidi adalah pemberian dana atau fasilitas dari pemerintah kepada produsen dalam negeri. Tujuan subsidi berupa dana atau fasilitas kepada produsen dalam negeri adalah untuk meningkatkan kapasitas ekspor.

a. Perbedaan Perdagangan Dalam Negeri dengan Perdagangan Internasional

1. Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan dalam negeri atau sering disebut perdagangan domestik meliputi ruang lingkup atau batasan wilayah suatu negara. Perdagangan dalam negeri bisa berupa perdagangan antar desa, perdagangan antar kota, perdagangan antar provinsi, dan perdagangan antarpulau. Sedangkan perdagangan luar negeri atau sering disebut perdagangan internasional meliputi kegiatan ekspor dan impor barang dan jasa antar negara. Misalnya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh negara kita dengan negara Malaysia, Jepang dan AS.

Perdagangan internasional berbeda dengan perdagangan dalam negeri, karena:

a) perdagangan internasional membutuhkan jenis mata uang yang berbeda-beda.

Apabila dalam perdagangan dalam negeri antara penjual dan pembeli menggunakan satu mata uang yang sama, tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana penjual dan pembeli menggunakan mata uang yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan kesepakatan akan penggunaan mata uang tertentu seperti mata uang dollar Amerika (US $) sebagai mata uang standar internasional sebagai alat pembayarannya.

b) Tata cara transaksi dalam perdagangan internasional memakan waktu relative lebih lama dibandingkan perdagangan dalam negeri.

Dalam perdagangan dalam negeri tata cara transaksi umumnya berlangsung singkat dan sederhana. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional. Tata cara transaksi yang terdiri dari kesepakatan harga, pembayaran, dan penyerahan barang memakan waktu yang relative lama karena jarak antara satu Negara dengan Negara lain yang berjauhan dan prosedur ekspor impor yang rumit.

c) Cara pembayaran dalam perdagangan internasional relative lebih rumit dan beresiko tinggi

Pada perdagangan dalam negeri pembeli dan penjual berada dalam satu Negara yang memungkinkan mereka bertemu dan melakukan pembayaran barang secara langsung. Tidak demikian pada perdagangan internasional. Seringkali antara penjual dan pembeli tidak bertemu secara langsung sehingga resiko yang menyertai juga relative besar. Dengan demikian penjual dan pembeli lebih suka menggunakan cara pembayaran dengan melalui perantara lembaga keungan bank dan dengan menggunakan letter of credit (L/C) atau commercial bills of exchange

d) perbedaan kebijakan yang diterapkan dalam pelaksanaan perdagangan internasional

Dalam perdangan dalam negeri kebijakan perdagangan Negara berlaku sama atas semua wilayah Negara sehingga tidak ditemukan kendala. Namun tidak demikian dengan perdagangan internasional, dimana masing-masing Negara memiliki kebijakan perdagangan yang mengacu pada kepentingan masing-masing Negara. Sehingga dalam praktik perdagangan kebijak perdagangan bias menjadi penghambat bagi perdagangan antar Negara.

Tabel 2.1

Perbedaan perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri

No

Perbedaan

Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan Luar Negeri

1.

2.

3.

4.

Pajak

Alat pembayaran yang digunakan

Cara pembayaran

Standar mutu barang

Tidak dikenakan pajak ekspor/impor

Menggunakan jenis uang yang sama sehingga tidak mengalami kesulitan

Bisa secara langsung, atau menggunakan jasa bank dalam negeri

Ditetapkan oleh Standar Industri Indonesia (SII)

Dikenakan pajak ekport-impor

Menggunakan jenis uang yang berbeda sehingga harus menggunakan kurs mata uang

Menggunakan jasa bank antar negara melalui letter of credit (LC)

Ditetapkan oleh Internasional Standar Organization (ISO)

b. Komoditas Ekspror Indonesia

Manfaat utama yang bisa diperoleh dari kegiatan perdagangan internasional adalah kesempatan untuk melakukan ekspor barang. Bagi ekonomi suatu negara ekspor dapat memberikan suntikan dana sebagai salah satu sumber pendapatan nasional.

Secara garis besar jenis ekspor Indonesia dibagi dalam dua kelompok, yaitu ekspor minyak bumi dan gas (migas), dan ekspor non migas. Dari kelompok migas ekspor kita terdiri dari minyak mentah, minyak olahan dan gas alam. Sedangkan dari kelompok non migas barang ekspor Indonesia terdiri dari beberapa kelompok yaitu kelompok ekspor barang-barang pertanian, kelompok ekspor barang-barang industri, dan kelompok ekspor barang-barang tambang non migas.

Tabel 3.1

NERACA PERDAGANGAN INDONESIA TOTAL

(Nilai : Juta US$)

NO

URAIAN

2001

2002

2003

2004

2005

TREND(%)
01-05

Jan-Nop 2005

Jan-Nop 2006*

PERUB.(%)
06/05

1

E K S P O R

56.320,9

57.158,8

61.058,2

71.584,6

85.660,0

11,22

77.536,4

91.192,6

17,61

2

MIGAS

12.636,3

12.112,7

13.651,4

15.645,3

19.231,6

11,58

17.406,6

19.300,3

10,88

3

NON MIGAS

43.684,6

45.046,1

47.406,8

55.939,3

66.428,4

11,12

60.129,8

71.892,3

19,56

4

I M P O R **)

30.962,1

31.288,9

32.550,7

46.524,5

57.700,9

17,84

52.811,4

56.055,1

6,14

5

MIGAS

5.471,9

6.525,7

7.610,9

11.732,0

17.457,7

33,73

16.116,4

17.585,0

9,11

6

NON MIGAS

25.490,3

24.763,1

24.939,8

34.792,5

40.243,2

13,35

36.695,0

38.470,1

4,84

7

TOTAL

87.283,0

88.447,6

93.608,9

118.109,1

143.360,8

13,67

130.347,8

147.247,7

12,97

8

MIGAS

18.108,2

18.638,4

21.262,3

27.377,4

36.689,3

19,68

33.523,0

36.885,3

10,03

9

NON MIGAS

69.174,9

69.809,2

72.346,6

90.731,8

106.671,6

11,95

96.824,8

110.362,4

13,98

10

NERACA

25.358,8

25.869,9

28.507,6

25.060,1

27.959,1

1,65

24.725,0

35.137,5

42,11

11

MIGAS

7.164,5

5.587,0

6.040,5

3.913,3

1.773,9

-27,01

1.290,2

1.715,3

32,95

12

NON MIGAS

18.194,3

20.282,9

22.467,0

21.146,8

26.185,1

8,00

23.434,8

33.422,2

42,62

Sumber

:

Badan Pusat Statistik, diolah Departemen Perdagangan

Keterangan

:

*) Angka sementara

**) Belum termasuk impor Batam dan Kawasan Berikat

Ekspor migas dapat dirinci dalam tiga jenis barang yaitu ekspor minyak mentah, produk minyak, dan Gas. Ekspor migas. Tahun 1960-an sampai tahun 1980-an sektor migas benar-benar menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia. Pada masa itu minyak menjadi tumpuan untuk mendapatkan devisa yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Masa itu biasa disebut sebagai masa booming oil, dimana pendapatan negara dari sektor migas sangat dominan.

Hal ini ditunjang oleh harga minyak di pasaran dunia yang relatif tinggi akibat krisis di Timur Tengah yang merupakan pusat pasokan minyak dunia. Namun demikian banyak ahli menjelaskan cadangan minyak bumi kita sangat terbatas sehingga dalam jangka waktu 10 tahun yang akan datang kita akan menjadi pengimpor minyak dan tidak mampu mengekspor minyak lagi

Dengan semakin menurunnya sektor migas sebagai andalam penerimaan devisa ekspor maka, sbagai gantinya negara kita berupaya untuk meningkatkan ekspor non-migas. Saat ini ekspor non-migas Indonesia sudah cukup bermacam jenis barang, misalnya, tekstil, kayu olahan, minyak nabati, barang-barang kimia, batu bara, biji tembaga, kertas, barang-barang elektronik, karet, ikan, barang-barang dari kulit, dan lain-lain.

Tabel 3.2. menunjukkan perkembangan ekspor Indonesia dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Dari tabel tersebut nampak bahwa ekspor Indonesia terus meningkat sejak tahun 2001 sampai dengan 2005.

Tabel 3.2. Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000 s/d 2005 (miliar dollar AS)

Tahun

(0)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

Total Impor

2000

3,5

0,23

4,3

15,7

1,8

3,2

12,3

10,8

9,95

0,4

62,1

2001

3,3

0,3

4,2

14,3

1,5

2,8

11,2

9,1

9,3

0,44

56,3

2002

3,6

0,3

4,5

13,9

2,7

2,97

10,9

9,8

8,2

0,3

57,2

2003

3,7

0,2

5,3

15,7

3,0

3,4

11,2

9,8

8,5

0,3

61,1

2004

3,97

0,3

6,4

18,6

4,5

4,0

12,9

11,5

9,2

0,25

71,6

2005

4,6

0,3

9,0

23,7

5,0

4,5

14,4

13,6

10,3

0,2

85,7

Keterangan :

(0) bahan makanan & binatang hidup, (1)minuman & tembakau, (2)bahan mentah, (3)bahan bakar & bahan penyemir, (4)minyak/lemak nabati dan hewani, (5)bahan kimia, (6)produk-produk industri, (7)mesin & alat pengangkutan, (8)produk-produk industri lainnya, (9)barang & transaksi lainnya.

Dengan menggunakan penggolongan seperti dalam Tabel Tabel 3.2, nampak bahwa grafik eksport kita cenderung terus meningkat. Pada tahun 2001 nilai ekspor Indonesia sebesar 56,3 miliar dollar Amerika Serikat, kemudian meningkat menjadi 85,7 milliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2005

Dari tabel ekspor itu juga, kita dapat melihat bahwa jenis barang ekspor kita yang terbesar adalah kelompok bahan bakar atau migas dan terbesar keduanya adalah produk-produk industri. Produk-produk industri yang banyak kita hasilkan adalah elektronika dan tekstil. Industri elektronik dan industri tekstil adalah industri yang sangat tergantung pada bahan baku impor. Sebagian besar kapas dan komponen elektronik adalah barang impor, maka kedua komoditi ini sangat rentan terhadap pengaruh kondisi ekonomi internasional. Di samping itu kemajuan dalam industri ini tidak akan banyak mempengaruhi sektor agraris karena input berasal dari luar negeri.

Untuk terus meningkatkan kegiatan ekspor sebagai sumber devisa, perlu ditempuh kebijakan-kebijakan seperti di bawah ini:

1. Penganekaragaman barang ekspor

Penganekaragaman barang ekspor terutama non-migas perlu diupayakan dengan memproduksi barang-barang baru yang laku di pasarkan di pasar internasional.

2. Pengendalian harga dalam negeri

Agar harga barang tetap mampu bersaing di pasar internasional dibutuhkan harga yang stabil. Untuk mencapai stabilitas yang mantap dibutuhkan pengendalian harga atau pengendalian inflasi. Inflasi dapat menyebabkan harga-harga bertambah mahal.

3. Pengendalian nilai tukar Rupiah

Karena kegiatan ekspor dan impor menggunakan mata uang internasional, maka dibutuhkan nilai tukar yang stabil sehingga menimbulkan kepastian usaha. Maka nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing perlu distabilkan. Penstabilan nilai tukar merupakan tanggung jawab dari Bank Indonesia.

4. Promosi ekspor

Promosi ekspor dalam bentuk pameran-pameran dagang sangat dibutuhkan untukmemperkenalkan produk-produk baru.

B. Alat Pembayaran Internasional

Perbedaan mata uang antara satu negara dengan negara lain dapat menyebabkan terhambatnya perdagangan antar negara. Oleh karena itu, untuk memperlancar aktivitas perdagangan internasional, negara-negara pelaku perdagangan internasional menggunakan devisa sebagai alat pembayaran.

1. Pengertian Devisa

Devisa diartikan sebagai alat pembayaran luar negeri atau antar negara. Dalam praktik perdagangan internasional dikenal empat jenis devisa yang biasa digunakan sebagai alat pembayaran, yaitu: valuta asing, emas, wesel asing, dan surat-surat berharga.

Devisa dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu:

a) Devisa umum

Devisa umum adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari kegiatan ekspor, penyelenggaraan jasa luar negeri, wesel asing, dan lain-lain.

b) Devisa kredit

Devisa kredit adalah devisa yang diperoleh suatu negara dari pinjaman luar negeri. Wesel kredit mensyaratkan kewajiban negara tersebut untuk mengembalikan pada negara pembeli pinjaman berdasarkan syarat dan jangka waktu tertentu.

2. Sumber-Sumber Devisa

Perdagangan internasional memerlukan devisa sebagai alat pembayarannya. Oleh karena itu setiap negara yang terlibat dalam perdagangan internasional berusaha memperoleh devisa sebaganyak-banyaknya untuk sewaktu-waktu digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang diperlukan. Sumber-sumber devisa yang umumnya dimiliki oleh suatu negara adalah:

a. Ekspor barang ke luar negeri

Kegiatan ekspor barang ke luar negeri akan menghasilkan pemasukan berupa devisa umum dari negara importir (pembeli). Semakin besar nilai barang yang dapat di ekspor ke luar negeri semakin besar juga devisa yang bisa diperoleh oleh negara tersebut.

b. Penyediaan jasa bagi luar negeri

Kegiatan penyediaan jasa bagi masyarakat luar negeri seperti menyediakan bandara udara dan pelabuhan internasional, akan membuat negara tersebut memperoleh devisa dari masyarakat luar negeri yang berkunjung dan menggunakan jasa-jasa bandar udara atau pelabuhan internasional.

c. Pariwisata

Pariwisata merupakan sumber devisa yang sangat potensial. Dengan melihat angka kunjungan wisatawan manca negara ke Pulau Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta dan lain-lain, maka sektor pariwisata bisa diharapkan dapat menyumbang perolehan devisa yang cukup tinggi bagi penerimaan negara. Namun demikian faktor keamanan dan kenyamanan tinggal harus selalu diutamakan, mengingat jasa pariwisata tidak bisa lepas dari faktor keamanan dan kenyamanan.

d. Hibah luar negeri

Hibah atau hadiah dari negara donatur merupakan bentuk bantuan yang tidak mengikat atau tidak perlu dikembalikan. Hibah devisa dari negara lain bisa diperoleh apabila negara pemberi hibah merasa diuntungkan oleh negara yang memperoleh hibah. Hibah dapat berupa pembebasan atau pengurangan hutang luar negeri.

e. Pinjaman asing

Pinjaman luar negeri termasuk dalam kategori devisa kredit, karena negara yang memperoleh devisa jenis ini wajib mengembalikan dalam jangka waktu tertentu. Pinjaman asing seharusnya diposisikan sebagai pelengkap dari dana yang digunakan bagi kepentingan pembangunan di Indonesia.

3. Penggunaan Devisa

Devisa yang diperoleh oleh negara umumnya terutama digunakan untuk membiayai impor barang atau jasa yang dibutuhkan di dalam negeri namun belum bisa diproduksi sendiri. Di samping itu penggunaan devisa antara lain sebagai berikut:

a) membiaya kedutaan dan konsulat di luar negeri,

b) membiayai perjalanan dinas dan kunjungan pejabat ke luar negeri,

c) membiayai misi kebudayaan dan olah raga ke luar negeri,

d) membiayai pengiriman pemuda-pemudi yang tugas belajar di luar negeri,

e) memperoleh jasa dari luar negeri.

C. Dampak Perdagangan Bebas terhadap Perekonomian Indonesia

Perdagangan bebas antar negara saat ini telah mulai dilaksanakan. Sebagai contoh Asean Free Trade Area (AFTA) sebagai kesepakatan dimulainya kawasan perdagangan bebas di antara negara-negara ASEA seperti Indonesia, Malayasia, Thailan, Filiphina dan lain-lain telah dimulai pada tanggal 1 Januari 2003.

Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangai kesepakatan tersebut tidak lepas dari pengaruh kebiajakan-kebijakan perdagangan tersebut. Maka apabila saat ini banyak kita temukan barang-barang produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, hal ini terjadi karena Indonesia harus mematuhi kebijakan perdagangan bebas yang mulai berlaku. Dampak perdagangan bebas bagi perekonomian Indonesia dapat dikelompokan menjadi:

a. Dampak Positif Ekspor

Dampak positif ekspor yang cukup penting diantaranya adalah :

1) Memperluas pasar

Aktivitas ekspor memungkinkan terjadinya perluasan pasar dari pasar domestik ke pasar global.

2) Memperluas lapangan pekerjaan

Bertambahnya pasar sebagai akibat dari kegiatan ekpor menyebabkan suatu industri memperluas usaha yang memungkinkan terserapnya tenaga kerja dalam industri tersebut.

3) Meningkatkan cadangan devisa

Meningkatnya aktivitas ekspor akan menyebabkan arus devisa dari luar negeri masuk ke dalam negera kita yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan impor Indonesia.

b. Dampak Negatif Ekspor

1) Menimbulkan kelangkaan barang di dalam negeri

Tanpa pengaturan yang baik, ekspor bisa menimbulkan kelangakan barang di dalam negeri. Misalnya, kalau minyak sawit mentah diperdagangkan secara bebas ke luar negari maka pasokan minyak sawit (CPO) mentah akan menjadi kurang di dalam negeri. Hal ini terjadi karena harga pasar internasional untuk CPO jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar di dalam negeri.

2) Menyebabkan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam

Dengan adanya ekspor akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang kita miliki. Misalnya ekspor barang-barang tambang telah menyebabkan semakin tipisnya cadangan bahan tambang dan menimbulkan kerusakan alam.

c. Dampak Positif Impor

1) Meningkatkan kesejahteraan konsumen

Dengan adanya impor barang-barang konsumsi, masyarakat Indonesia biasa menggunakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. Sebagai contoh, kita bisa mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang berasal dari tepung terigu padahal negara kita tidak mampu menghasilkan tepung terigu.

2) Meningkatkan industri dalam negeri

Dengan adanya impor, kita mendapatkan kesempatan untuk mengimpor barang-barang modal baik yang berupa mesin-mesin industri maupun bahan baku yang memungkinkan kita untuk mengembangkan suatu industri. Misalnya, industri tekstil Indonesia sangat tergantung pada impor kapas dari luar negeri.

3) Alih teknologi

Dengan adanya impor memungkinkan terjadinya alih teknologi. Secara bertahap negara kita mencoba mengembangkan teknologi moderen untuk mengurangi ketertinggalan kita dengan bangsa-bangsa yang sudah maju. Misalnya, secara bertahap kita mampu mengembangkan rancang bangun di bidang permesinan.

d. Dampak negatif impor

1) Menciptakan pesaing bagi industri dalam negeri

Pada pembahasan diawal kita melihat bahwa dengan adanya impor kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan industri dalam negeri melalui impor barang-barang modal. Namun demikian yang terjadi bisa sebaliknya, industri kita tidak berkembang karena menghadapi pesaing-pesaing dari luar negeri.

2) Menciptakan pengangguran

Dengan mengimpor barang-barang dari luar negeri berarti kita kehilangan kesempatan untuk menghasilkan sendiri barang-barang tersebut, yang sama artinya kita telah kehilangan kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan yang tercipta dari proses memproduksi barang tersebut.

4) Konsumerisme

Konsumsi berlebihan terutama untuk barang-barang mewah merupakan salah satu dampak yang dapat diciptakan dari adanya impor. Pakaian impor mewah, mobil-mobil mewah, alat-alat rumah tangga mewah adalah contoh-contoh konsumerisme yang muncul dalam masyarakat kita.

Praktek & tugas 1

•f2808 • Tinggalkan sebuah Komentar

Nama : Antoni alias Antoni Lamini

Tempat Tanggal Lahir : Pare-Pare,13 April 1973

Pekerjaan : Guru dan penjual Bensin Eceran

Instansi : 1.SD-SMP Negeri Terpadu 7 Bontang

2.SMA YKP MONAMAS Bontang

3.Universitas Trunajaya Bontang

Alamat : JL.DI Panjaitan No.2 RT.25 Kelurahan Api-Api,Kecamatan Bontang Utara

Kota Bontang,Kalimantan Timur

Nomor Telpon : 0813 47 144 720

E-Mail : antonilamini@yahoo.co.id

Blog : http://antonilamini.wordprss.com